Bikin SIM Wajib Tes Psikologi – Aya Aya Wae!

Saya baru saja membaca artikel berita, yang menginformasikan bahwa tidak berapa lama lagi (alias tinggal bbrp hari lagi), akan diterapkan syarat baru untuk layanan pembuatan sim.

Seperti kita ketahui, syarat utama pembuatan sim (baru+perpanjangan) adalah tes kesehatan, selain tes teori dan praktek. Nah nantinya nih, syarat pembuatan sim baik baru atau perpanjangan akan diberi extra bonus yaitu tes psikologi.

Memang sesuai aturan Pasal 81 Ayat 4 UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Serta tertuang dalam Pasal 36 Peraturan Kapolri No 9 Tahun 2012 tentang Surat Izin Mengemudi ada bagian yang mengatakan bahwa salah satu persyaratan penerbitan SIM adalah kesehatan, baik kesehatan jasmani maupun rohani, untuk pemeriksaan kesehatan rohani dilakukan dengan materi tes.

Saya ingin sharing uneg uneg di pikiran ini perihal tes psikologi. Gni ya… tanpa bermaksud menuduh pihak manapun, ijinkan saya sebagai warga negara biasa menuangkan analisis saya..

Mengapa Sampe Perlu Pake Tes Psikologi?

Saya memahami bahwa ini sudah di-setup untuk masyarakat agar tidak mudah memiliki sim, dengan salah satu tujuannya adalah mengurangi potensi orang bermasalah dalam mengemudi kendaraan di jalan raya sehingga otomatis diharapkan bisa mengurangi potensi kecelakaan dengan tidak mempercepat kepemilikan sim.

Dulu tes psikologi hanya untuk sim umum, artinya semisal anda supir bis, truk, angkot, anda perlu ikut tes ini. Dan apesnya beberapa hari lagi ini akan menjadi tes psikologi yang wajib diikuti semua pemohon sim kategori apapun!

Saya ingin beri pendapat saya… Mengapa tes psikologi ini USELESS alias PERCUMA!

POLRI mungkin berpendapat ‘Hei, kami kan hanya menjalankan titah peraturan yang jelas berdasar hukum’. Tapi sayangnya ini bukan langkah bijak dan smart bila hanya sekedar bertujuan mengurangi jumlah populasi pengendara kendaraan yang dari hasil tes psikologi dianggap tidak memenuhi syarat kejiwaan berkendara di jalan raya.

Katakanlah ada orang yang lulus tes psikologi, apa jaminan pihak terkait bahwa orang tersebut tidak akan melakukan tindakan yang berlawanan dari hasil tes psikologi-nya dalam berkendara di jalan raya? Jawabannya: GAK ADA GARANSI!!

Mengapa tidak akan ada pihak yang berani memberi ‘GARANSI’?? Karena orang bodoh pun tau, emosi dan kejiwaan adalah hal yang tidak bisa dikontrol penuh oleh orang lain ataupun dari aturan dunia akhirat apapun!

belanja kebutuhan kendaraan free ongkir se-indonesia disini masbro

Artinya pihak-pihak terkait dengan penerbitan sim, dan pengelola jalan raya tidak bisa memberi jaminan bahwa setiap pemilik sim yang sudah lulus tes psikologi dan mendapat sim dapat dijamin kelakuan mengemudinya emang bener dan gak akan melanggar atau membuat kecelakaan!

Nah kalau gtu untuk apa tes psikologi? Ini sama aja berusaha membuang kodrat manusia yang udah bisa mengemudi sejak puluhan tahun tapi gagal mendapatkan sim baru karena di take down disaat uji prakteknya! Coba aturannya dibuat sesuai fakta dan kondisi asli di jalan raya, kenapa gak uji mengemudi di jalan raya? Faktanya kemampuan teknis mengemudi itu tidak akan menurun, tapi meningkat seiring pengalaman pengemudi berkendara di berbagai kondisi jalan dan cuaca di berbagai tempat di dunia ini. Saya beri contoh lain, manusia: dari bayi…ia merangkak, berdiri, sampai bisa berjalan…semua itu proses kemajuan. Satu-satunya proses untuk mengurangi kemampuan teknis mengemudi adalah bila ada gangguan syaraf dan gangguan motorik pada manusia itu sendiri. Nah kalau gtu, kenapa manusia yang jelas masih mampu mengemudi, masih sehat jasmani rohani, tapi di hambat di bagian tes praktek!? Belum lagi tempat dan bentuk uji prakteknya setiap satpas berbeda-beda walau secara tertulis sudah ada panduan ketentuannya! Itu nalarnya dimana??

Tes psikologi untuk dapat sim itu percuma, karena jelas sekali kondisi di lapangan saat mengemudi itu adalah kondisi abu-abu, artinya situasi cepat berubah, emosi pengemudi bisa saja terpancing oleh hal sepele, baik untuk pengemudi masih belia ataupun sudah dewasa. Faktanya adalah kondisi jalanan di indonesia itu memang menguras segalanya: waktu, emosi, jiwa, dll. Jadi disini tidak bisa dibakukan kondisi tes psikologi berbanding lurus dengan baiknya pengemudi menghadapi kondisi mengemudi di jalanan.

Satu-satunya kegunaan tes psikologi adalah sebagai pendamping tes uji praktek untuk menjegal pemohon sim agar tidak cepat dalam mendapatkan sim, dengan kata lain mendapat kondisi membatasi jumlah pengendara kendaraan di jalanan karena belum memiliki sim, dan dengan kata lain… ada pihak yang diuntungkan dengan (harapannya) mungkin menurunnya tingkat kecelakaan dan naiknya jumlah pengemudi yang ‘waras’ di jalanan. Mirisnya lagi tes psikologi ini pemohon SIM yang dikenakan biaya bukan gratis! Alasannya adalah tes psikologi ini kerjasama dengan pihak independen diluar polri, biaya diperkirakan Rp.25.000 – Rp.35.000 per sekali tes, lah…ini mah makin memberatkan pemohon SIM. 

Nah sayangnya, pihak terkait juga lupa, bahwa tes psikologi itu kurang tepat di-implementasikan di indonesia karena tidak diimbangi dengan niat pemerintah:

1. Mengurangi jumlah populasi kendaraan di jalan raya dengan memperketat aturan usia kendaraan.
2. Menambah jumlah angkutan umum di seluruh indonesia yang beroperasi 24 jam.
3. Mengurangi beban jalan raya dengan melakukan razia kendaraan besar pengangkut ini itu.
4. Menambah rambu-rambu lalu lintas yang jelas dan termonitor.
5. Menugaskan polisi aktif di pos polisi: Pos polisi kini cuma jadi pajangan!

Cara sederhana untuk mengurangi beban ‘penyakit’ di jalan raya adalah:

1. Pemerintah berani menaikkan pajak progresif minimal 40% untuk kendaraan kedua jenis apapun! Daripada mempersulit dapat SIM dan menguntungkan calo SIM?

2. Pemerintah berani menekan leasing dan dealer kendaraan baik baru ataupun bekas untuk tidak menjual kendaraan dengan DP murah. Artinya katakanlah DP kendaraan jangan 30% tapi diatas 50% itu akan membuat orang tidak mudah memiliki kendaraan. Tapi pemerintah harus menjamin keberadaan angkutan umum ke setiap tujuan warga negara!

Kalau dua hal diatas tidak berani dilakukan dengan dalih… itu sama saja mempersulit investor dalam menjalankan usahanya di indonesia untuk memperoleh keuntungan maksimal. Loh…. ini bukan persoalan ekonomi semata masbro! Di jalanan itu udah urusan pegang nyawa masing-masing! Jadi kurang tepat bila hanya mementingkan kebijakan untuk menguntungkan investor tapi menganaktirikan warga yang butuh sim tapi dipersulit namun mudah dapat kendaraan!

Belanja pertama kali di tokopedia pakai vocer/kupon: TPFER3ITFQ
dapat cashback Rp.30.000 hanya untuk kamu!

3. Menyediakan petugas polisi dan dishub yang lebih manusiawi dan aktif 24 jam untuk membantu warga! Gak usah banyak alasan, mereka dibayar dari uang rakyat, maka mereka juga harus kerja 24 jam secara bergiliran (shift). Saya punya pengalaman, ketika saya sedang main di warnet pinggir jalan raya dari jam 12 mlm sampai 3 pagi, ada truk pengangkut pupuk oleng dan nabrak trotoar dan truk terbalik hanya berjarak 50m dari warnet, pupuk berserakan di jalan raya dua arah yang sempit. Saya ikut bantu mengevakuasi supir dan kernet yang masih ada di dalam badan truk, meminggirkan pupuk, dan hanya 4 orang di situ yang mau bantu karena yang lain cuma melihat dan gak mau berurusan dengan polisi. Setelah itu saya ngebut pake motor sejauh 4km ke polres, saya lihat tidak ada polisi bertugas mengamankan mabesnya, malah 1 polisi muda tidur dalam gedung saya bisa melihat dari kaca hitam di bangunan tersebut saya gedor pintu keras itu polisi tetep molor doank (tv pun dinyalakan!), lalu saya menuju ke satlantas, lapor, 1 polisi bangun, saya lapor tkp dsb, saya balik ke tkp… anda tau berapa lama saya menunggu satlantas dengan mobil kijang putih polri pickup terbuka itu datang ke tkp sambil saya mengatur sendirian buka tutup jalan raya 2 arah di jam subuh itu? SATU JAM!!!! Jarak tkp 4km polantas datang 1 jam kemudian!!!! Pikir saya dalam hati…. kalian 1 jam datang makan dan ngopi dulu di warung nasi padang!??

Tes psikologi hanya akan menunjukkan permainan pingpong saat ada kejadian laka lantas yang terjadi pada pengemudi yang sudah mengikuti segala ujian teori, praktek, psikologi dan kesehatan. Akan banyak dalih yang tidak berani mengakui bahwa tes psikologi tidak menjamin ke’warasan’ orang dalam mengemudi.

Coba kita tengok di lapangan, ambil contoh kejadian laka lantas metromini / kopaja di jakarta, misal pengemudinya memang benar yg dipekerjakan perusahaan PO tsb (punya SIM umum – lulus tes psikologi), dan PO bus tsb jelas kendaraannya ada yg tidak layak operasional atau oknum supirnya mengemudi kayak dikejar tagihan setan, kenapa sampai sekarang pihak” tertentu masih memperbolehkan PO bus tsb beroperasi!? Sudah berapa x kecelakaan? Sudah berapa x korban jiwa? Sudah berapa x kernet n supir asli diganti supir n kernet tembak? Jadi maksud saya adalah, yang udah jelas transportasi umum bermasalah di depan mata saja pun masih diperbolehkan beroperasi, lah enak banget udah berkali-kali membahayakan penumpang dan orang di jalan raya tapi ya masih aja beroperasi.

Itu baru seputaran Jakarta, belum lagi kalau anda pake bus jurusan Surabaya – Purwokerto yg kelir hitam merah silver itu supirnya mungkin menantu raja iblis!! Saya pernah rasakan sendiri naik bus itu disupiri spt keliling neraka aja!

Artinya: Polisi dan Dishub harus tegas menindak dulu ke kendaraan besar (transportasi umum) daripada main yang kecil”. Karena 1 motor mungkin hanya membuat sedikit nyawa melayang daripada kendaraan besar kecelakaan bisa lebih banyak nyawa melayangnya!

Faktanya banyak faktor yang membuat terjadinya kecelakaan selain kurangnya kemampuan mengemudi:

1. Mengkonsumsi miras dan mabuk saat mengemudi.
2. Mengkonsumsi obat-obatan ilegal saat mengemudi.
3. Kurangnya rambu di jalanan yang rusak, kendaraan bisa terjerembab di jalanan yang rusak.
4. Cuaca.
5. Diganggu penumpang saat mengemudi.
6. Sedang galau masalah pribadi (dikejar debt colector x).
7. Kendaraan bermasalah.
8. Ngantuk saat mengemudi (kelelahan)
9. Dandan saat mengemudi.

Apa lagi coba sebutin, buanyaaakk!!

Jadi gunanya segala aya tes untuk mendapatkan sim itu untuk apa!? Aturan? Aturan memiliki sim tidak akan berjalan baik bila tidak di dampingi perbaikan kondisi di jalan raya, dengan dalih aturan dan memperketat ke calon pemilik sim itu adalah alasan untuk tidak berani mengakui dan memperbaiki kondisi di jalan raya bagi setiap warga yang menggunakan jalan raya untuk berkendara. Berkendara di indonesia itu tidak sama dengan keteraturan berkendara di luar negeri, jadi jangan terlalu berharap keteraturan di jalan raya, kecelakaan akan selalu ada bagaimanapun manusia berusaha mencegahnya! Apa perlu sekalian untuk mengurangi kecelakaan di jalan raya setiap pemohon SIM wajib di tes keimanannya juga!? Biar tambah greget gtu!?

Kecelakaan itu tidak dapat dicegah, karena sudah bagian dari resiko cerita kehidupan, anda hidup anda harus terima resikonya. Berharap tingkat laka lantas menurun dan mengurangi nyawa hilang di jalan raya tidak sama dengan berusaha menghilangkan resiko dengan tidak mempercepat penerbitan SIM bagi calon pemilik SIM yang sudah jelas bisa mengendarai kendaraan. SIM tidak menjamin nyawa pengemudinya tetap ada di jalan raya, tidak menjamin orang di sekitaran jalan raya tetap bernyawa, legowo lah menerima resiko hidup, jangan persulit memiliki SIM. Nyawa memang mahal dan tak tergantikan, tapi kalau sudah jalan hidup ini mati kecelakaan sengaja atau tidak sengaja saat berkendara, mau apa lagi!?

Pilih Mana:

  1. SIM mahal tapi mudah di dapat secara resmi?
  2. SIM murah tapi banyak dijegal aturan resmi untuk memiliki sim dengan cepat!?

Ketika orang memiliki sim dan berkendara di jalan raya, urusan nyawa dipegang masing-masing, bukan lagi tugas aparat yang menerbitkan sim. So, why you make it hard for us? Fair enough isn’t it?

Ssstt…. Ada joke baru neh di dumay: Kalau tes psikologi diberlakukan, yang pasti akan mudah dan sering lulus tes adalah anak anak jurusan psikologi 🤣

Pastikan saat tes psikologi SIM jangan ingat mantan! Apalagi kalo mantan kmu sudah jadi aparat dan ketemu di satpas SIM 🤣😄

Saya tunggu kejutan menarik selanjutnya deh di negara kita ini, ya kali aja besok” yang gak punya kartu BPJS dan gak bayar iuran BPJS gak bisa daftar sim? Gak bisa beli motor? gak bisa bikin KTP? Gak bisa bikin akte lahir? Gak bisa daftar nikah?

People power is more greater than any country rules! 💪 Ketika kebutuhan dasar warga negara dipersulit, ibarat telah memicu sumbu, perlahan dan pasti sumbu itu akan mencapai puncaknya. You know the rest what will happen next! ✊

Iklan

2 respons untuk ‘Bikin SIM Wajib Tes Psikologi – Aya Aya Wae!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.