Ujian Praktek SIM C – Aje Gileeee

Melanjutkan artikel tentang bikin sim c online dan ujian teori sim c, sekarang saya lanjutkan untuk mengulas tentang praktek ujian sim c baru.

Di artikel sebelumnya, anda akan temukan saya mengulang ujian praktek sim c untuk yang kedua kalinya di tanggal 29 Des 16 dan saya dinyatakan lulus dan melanjutkan ke tahapan berikutnya yaitu ujian praktek sim c.

Dari kantor satpas polisi, saya melanjutkan ke lapangan tenis (dulunya sih) di area mess polres kota saya. Nah ini tempat sudah dimodifikasi menjadi tempat ujian praktek sim c. Kami yang lulus ujian teori sim c di hari itu kumpul di satu tempat tersebut, di tempat itu sudah ada satu petugas polisi yang akan menilai dan memberi contoh bagaimana menjalani ujian praktek disitu plus ada satu motor honda revo milik kepolisian yang bisa digunakan untuk uji praktek peserta.

Saya kebetulan dapat di urutan kedua nih, setelah peserta pertama gagal, nama saya langsung nongol dipanggil dan majulah saya. Saya memilih menggunakan motor revo kepolisian karena revo karbu 2009 milik adik ipar saya memang lagi gak fit untuk digunakan, dan saya sempat coba melaju sebentar pakai revo kepolisian dan tunggangannya lebih baik, rem ok, gas ok, ban juga ok.

demo uji praktek sim c – bukan di kota saya

Mulailah saya ujian praktek, dan tidak ada 2 menit saya langsung gagal. Kenapa? Karena dengkul saya terlalu besar dan mengganggu proses putar arah setang motor sehingga otomatis kaki saya turun menginjak tanah dan dinyatakan gagal. Saya cuma bisa melewati satu halangan tikungan saja saat itu. Setelah itu saya lanjut pulang saja, karena saya juga harus lanjut kerja. Memang sih setelah dinyatakan gagal, si polisi penilai ini akan memberi catatan di kertas untuk peserta yang gagal untuk coba ulang di minggu depan, dan minggu depannya saya gak bisa datang karena badan lagi gak fit. Otomatis (mungkin) pengajuan sim c baru saya dinyatakan gagal dan harus ulang lagi dari nol yaitu mulai lagi cek up kesehatan, ikut ujian teori dan praktek lagi.

Sampai saat ini saya belum kembali ke polres untuk ikut ujian ulang. Mengapa?

1. Duit bro! Karena surat cek up medis untuk syarat pembuatan sim c baru itu hanya berlaku maksimal 3 minggu! Jika sudah lebih dari itu, ya sama aja keluar duit lagi untuk cek up lagi. Dan cek up-nya pun ibarat gak serius juga, bisa anda baca disini.

2. Ujian Praktek Gak Masuk Akal!
Entah mengapa kalau saya lihat ya, saya cek di google pula belum temukan satupun petugas penilai dan pencontoh uji praktek yang dimana aparat polisinya berbadan gede, ya segede saya atau lebih. Mayoritas petugas pencontoh dan penilai itu polisi yang kurus/badannya rata” saja. Jadi saya mikir nih, gimana kalau yang memberi contoh dan menilai itu aparat kepolisian yang berbadan besar agar adil, biar kami kami peserta juga merasa mendapatkan keadilan donk ya, kan belum tentu itu petugas polisi berbadan gede pun sanggup melibas halang rintang uji praktek sim c karena badannya gede? Kalo polisi pencontoh n penilainya emang badannya kurus/rata” gak gede kami juga bisa menilai sepihak ini memang akal-akalan korlantas polri x ya?

Jujur aja, kami yang berbadan besar memang kesulitan untuk membalikkan arah kemudi motor dan menjaga keseimbangan badan. Kalau anda tidak percaya, cobalah jadi orang berbadan besar biar tau dengkul, paha, lengan itu sangat ngefek untuk memutar setang motor di pola belokan/tikungan yang sempit.

Di tempat saya uji praktek, saya sempat mengukur, dari apa yang saya lihat pola halang tikungan itu memiliki panjang kelokan sekitar 90cm atau sekitar 3 lantai keramik 30cm dan motor yang digunakan peserta harus mampu melewati beberapa kelokan sempit seukuran itu. Anehnya nih…anehnya…saya temukan di sebuah artikel website berita, ada pihak kepolisian yang mengadakan pembuatan sim c baru keliling dan memasang pola halang rintangan tikungan/kelokan lebih besar daripada di tempat saya uji praktek, buktinya bisa dilihat digambar yang saya save dibawah ini.

enak banget masbro – jaraknya lebar lebar gtu!

Jika diamati dari gambar, kita bisa simpulkan sejenak itu panjang kelokan lebih jauh, bisa diatas 100cm loh dan dengan ukuran yang makin jauh tentu saja peserta akan mudah melewati halang rintang kelokan itu. Makin sempit makin sulit, makin panjang makin mudah dilalui.

Rata-rata ban depan motor bebek, saya pakai acuan motor honda revo ya…panjang pola di darat/tanah setara 2 lantai keramik 30cm. Sedangkan pola halang rintang kelokan di tempat uji praktek di polres tempat saya itu sekitar 90cm, memang masih ada sisa 30cm, tapi ini sangat amat minim untuk digunakan sebagai putaran setang, akibatnya sulit sekali peserta mempertahankan setang dan rem roda belakang untuk sekedar mengalihkan setang ke kelokan berikutnya, dan hasilnya pasti kaki akan menyentuh tanah dan dinyatakan gagal. Bahkan peserta yang pakai motor matic mio yang kecil gtu saja masih bisa gagal!

Jadi kesulitan utama mengapa banyak peserta gagal uji halang rintang kelokan sim c adalah pada bidang ukuran kelokan yang sempit. Bahkan ada peserta yang sampai mengulang 12x uji praktek sim c dan masih gagal pula padahal udah bertahun-tahun dari smp udah bisa pake motor dan punya sim (tapi sudah mati).

Untuk saya pribadi uji praktek sim c ini agak gak masuk akal gak rasional. Mengapa saya menganggapnya demikian?

1. Kemampuan menggunakan kendaraan roda dua adalah sebuah kemampuan jangka panjang, dari pertama manusia bisa menggunakan/mengendarai sampai akhir hayatnya manusia akan selalu ingat kemampuan tersebut kecuali manusia tersebut memiliki riwayat sakit lupa ingatan atau gangguan motorik yang mengaburkan kemampuan tertentunya. Maka dari itu seharusnya ada keadilan dalam penerbitan sim c baru dimana adilnya manusia yang sudah memiliki kemampuan mengendarai motor roda dua tidak perlu diikutsertakan uji praktek lagi, namun sebaiknya diarahkan untuk lebih memahami pola lalu lintas dengan menambah soal uji teorinya saja.

2. Jika peserta yang mengajukan sim c untuk pertama kali di hidupnya, baru-lah peserta yang spt ini diajukan uji praktek untuk pembuktian apakah memiliki kemampuan mengendarai motor roda dua. Namun pola halang rintang haruslah dibuat lebih adil, memang mungkin korlantas polri menggunakan pola praktek yang sama seperti di luar negeri tapi tidak bisa 100% diterapkan di indonesia. Saran saya sebaiknya uji praktek itu dibuat natural bukan sistematis pola yang dipakai saat ini. Pola kelokan harus lebih panjang setidaknya 1.5meter minimum, lah jarak antar ban motor bebek aja 1 meter lebih dari ujung depan – belakang! Bahkan akan jauh lebih baik bila tes uji praktek langsung di jalan raya dengan area terbatas daripada di halaman uji praktek yang sempit. Dengan sistem pola sekarang kami peserta pasti bertanya: Apakah pola sistem yang diterapkan itu benar-benar ada di dunia nyata, di jalan raya nyata? Kan faktanya memang tidak setiap peserta akan melalui halang rintang seperti pola sistem uji praktek di jalan raya? Bahkan ada netter yang iseng akan mencari pola halang rintang korlantas polri di dunia nyata untuk membuktikan pola uji praktek korlantas polri itu tidak fair.

3. Saran saya, sebaiknya medical check up itu tolong-lah dibuat adil. Menguras kantong tiap 3 minggu masa berlaku kartu sehat yang diterbitkan dokter yang ditunjuk kepolisian itu sangat memberatkan calon pemilik sim c. Jika peserta dinyatakan gagal, dan memang harus ulang lagi prosesnya dari awal dimulai dari medical check up, maka dia harus keluar uang lagi dan masa guna kertas cek up itu terbatas 3 minggu. Alangkah baiknya bila kertas lulus kesehatan itu berlaku misal 3 bulan atau 6 bulan, karena tiap proses ulang uji teori dan praktek itu berlaku tiap kelipatan 1 minggu. Saya tidak tahu berapa kali maksimal pengulangan uji teori dan praktek sim c, yang jelas saya gak mengulang di kesempatan uji praktek kedua karena badan gak fit, sekarang kalau saya mikir datang lagi untuk uji praktek tentu sudah lewat dari tenggat waktu pengulangan. Maka nalarnya kan pasti kalau saya datang lagi mungkin pihak satpas polisi menganjurkan saya ulang dari nol yaitu dari medical check up lagi. Padahal saya baru telat uji praktek kedua 1 bulan, nah yang jadi pertanyaan kan apakah 1 bulan ini sudah dinyatakan hangus pengulangan prakteknya atau belum?

4. Kalau memang masih terus menggunakan sistem pola uji praktek sim c spt skrg ini, alangkah fair-nya bila petugas polisi penguji-nya itu juga ada yang berbadan besar, biar kami peserta merasa fair juga bahwa orang gede (aparat) juga memang sanggup lancar melibas halang rintang yang ada. Kalau tidak lancar/gagal kan ini juga bukti bahwa memang ukuran fisik berpengaruh ke sistem pola halang rintang yang diseting sempit.

Saya memang belum cek tempat uji praktek sim c di semua kantor polisi se-indonesia. Yang saya pernah lihat langsung di semarang dan di kota saya, dan beda loh. Yang di semarang halamannya luaaasss dan polanya lebih banyak tapi bisa terlihat pola kelokannya sptnya lebih panjang daripada di polres kota saya.

sim_online

Saran saya untuk anda yang sedang berjuang mendapatkan sim c baru dan kesulitan di uji praktek, anda bisa cari dulu lokasi lapangan uji praktek sim c yang menurut anda lebih luas atau lebih fair polanya, alias tidak sempit amat. Bahkan kalau anda temukan ada jadwal sim c baru keliling, anda bisa langsung daftar di website korlantas mabes polri untuk registrasi sim c baru online dan anda langsung bawa bukti pendaftaran ke tempat uji sim c baru keliling tersebut karena mungkin ada kesempatan pola uji prakteknya lebih bagus.

Kelemahan Uji Praktek SIM C:

1. Ada kemungkinan besar petugas penilai-nya bisa disuap. Saya memang belum pernah melakukan tindakan ilegal spt ini, tapi dari beberapa obrolan peserta yang sudah pernah lulus dan netter, memang ada kesempatan menyuap petugas penilai tersebut saat kita gagal uji praktek. Rata” memberi suap 250-350 per 1 sim c baru per orang.

2. Calo masih melimpah bro! Lah ini jelas saya temukan sendiri di satpas kepolisian di kota saya, ada yang beroperasi di parkiran, di luar gedung sampai di halaman dalam. Rata” mereka minta 400-600 per sim c baru per orang.

3. Ada pihak yang menjual sim c aspal, saya pernah temukan 1 orang pakai sim aspal ini di kota saya, sim aspal ini kalau dilihat ya menurut saya sih cetakannya ok, hologramnya juga hampir mirip dengan yang asli, yah hampir kw 1 sih, klo petugas razia gak teliti ya tembus tuh sim aspal, kalau razia malam mah dijamin tembus sih gak ketahuan. Sim c aspal ini dijual harganya 600rban, waktunya 1 minggu selesai dikerjakan. Tapi saya tidak minta info kontaknya. Nemunya di alun alun kota saya, waktu iseng” kenalan, ngobrol biasa eh bablas soal sim c, dan dia tunjukin ke saya. Orang ini usianya sekitar 25-30thn, jenis kelamin gak usah saya sebutkan lah ya.

Menurut saya suap menyuap untuk meloloskan uji praktek pasti akan ada. Prinsipnya sederhana, dimana ada kesulitan, ada demand ada solusi?

Pertanyan terakhir:

1. Berapa statistik jumlah peserta uji praktek sim c yg sudah memiliki kemampuan sejak lama mengendarai motor gagal di ujian tersebut tiap bulannya per satpas di seluruh indonesia berbanding dng yang berhasil? Jika memang kami peserta yg sudah jelas memiliki kemampuan mengemudi motor roda dua sejak lama jauh lebih banyak gagal karena uji praktek sim c ini maka perlu dipertanyakan mengapa harus pakai uji praktek yang kenyataannya sangat dipersulit tsb?

Dear korlantas polri, mempersulit kami peserta yg sudah jelas BISA DAN MAMPU MENGGUNAKAN MOTOR RODA DUA SAMA SAJA MEMPERMUDAH OMZET CALO DAN OKNUM POLISI. Fakta di lapangan sudah jelas dan ibarat saling tahu tapi tidak mau tahu, sama sama butuh aja!

Kami bukannya tidak mau perpanjang sim lama tepat waktu atau malas, pernahkah terpikirkan nasib kami tidak selalu mujur dalam hal finansial dan tidak memiliki uang di saat mau perpanjang sim lama sblm masa berlakunya berakhir?

Untuk saat ini saya belum memiliki sim c lagi karena selain belum ada duit untuk mulai lagi dari nol, dan juga saya lagi bosen untuk uji praktek. Mungkin akan cari tempat satpas lain yang lokasi uji prakteknya lebih memadai dan pas aja. Mungkin klo masih terus sulit mendapatkan sim c legal karena dijegal uji prakteknya, maka saya mungkin akan ambil jalan ‘lain’. Mohon maaf sebelumnya loh πŸ™‚

Btw, kalau diperhatikan ya lokasi n bentuk halang rintang uji praktek tidak selalu sama di tiap kantor polisi, ini juga aneh n bikin masalah terutama warga yg uji praktek di lahan yg sempit n ukuran halang rintangnya gak lebar lebar.

==============================================

Sekedar nambahin masbro, out of topic dikit, saat desember tahun lalu saya perpanjang pajak motor adik saya. Saya curiga dengan satu oknum polisi di meja layanan, saya berdiri persis di depan meja yang spt meja teller bank itu, polisinya dibalik meja, jarak saya dari tempat saya berdiri dan meja teller itu paling cuma 30cm saya menyandar di dinding. Disitu persis sekali di depan saya ada 2 orang laki, usia diatas 40thn, dilihat dari aksen suara keduanya orang satu kota dengan saya.

oknum1

Mereka datang menghampiri petugas oknum polisi itu dan ngobrol soal mempercepat proses kendaraan mobil mrk, saya gak begitu dengar jelas mobil apaan dan surat apaan, tapi mereka memberikan stopmap merah muda, dan polisinya menjawab dengan bahasa indonesia “Jangan disini, kita keluar aja disamping.” Lalu sekitar 10 menit kemudian si polisi dan dua laki ini balik lagi di depan saya. Jarak saya dan salah satu orang ini gak lebih dari 10cm, jaketnya aja beberapa kali sempet nempel ke tangan saya!

oknum2

Saat mereka keluar, saya melihat lihat sekitar saya, diatas saya ada cctv, sayangnya ini cctv mengarah agak jauhan dari meja kerja si oknum polisi ini. Dan tidak ada voice recorder di meja kerja atau meja layanan polisi ini jadi percakapan mrk tidak bisa direkam. Saya hanya sempat memotret mereka bertiga diam diam / capture silent saat mrk bertransaksi. Jika yang saya duga ini benar terjadi penyuapan kepada oknum polisi saya sangat menyayangkan sekali. Karena di dalam dan di luar ruangan sudah ada banner dan informasi URUS SENDIRI MUDAH CEPAT TIDAK PERLU PAKAI CALO. Sekali lagi, ini baru dugaan, karena saya tidak ikut keluar melihat apakah mrk bertransaksi sesuatu dengan nilai ekonomi tertentu atau tidak, jadi ini baru dugaan bukan menyimpulkan 100% benar adanya penyuapan. Lah gimana ini mau dilaporin kalau cuma saya modal jepret foto doank tapi di ruangan tersebut memang cctv gak mengarah ke pihak tsb dan tidak ada voice recorder, bukti kurang donk ya? Harapan saya sih di kantor samsat itu dipasangi cctv lebih banyak plus voice recorder di tiap loket meja kerja petugas agar diketahui pembicaraan dengan orang yang datang ke loket itu, lah kalo cuma modal cctv jelas donk orang gak akan bertransaksi di dalam ruang yg ada cctv, oknum petugasnya juga pasti paham lah main aman dilokasi mana aja!

Iklan

18 thoughts on “Ujian Praktek SIM C – Aje Gileeee

  1. Dilihat dr fotonya, lokasi tes praktek di daan mogot ya ?
    Baru saja td selepas shalat jumat saya ikut tes praktek sim c untuk yg kedua kalinya, dan tidak lulus.
    Tes praktek yg pertama tdk lulus karena di tikungan terakhir leter “U” kaki kanan saya hampir mau turun, karena reflek saat kehilangan keseimbangan. Saat itu saya masih terima klo dinyatakan tdk lulus.
    Tapi pada tes praktek hari ini saya gagal lagi, meski saya sangat yakin saya tdk ada kesalahan apapun.
    Alasan penguji kecepatan saya pada waktu zigzag besar tdk sampai 30kpj. Bagi saya itu alasan yg dibuat2. Dan saya lihat banyak peserta yg mengulang 4 sampai 5x baru diluluskan.
    Saya ini pekerja pabrik, saya tidak bisa izin atau bolos kerja sampai 5x hanya untuk bikin sim.

    Saya heran urusan yg mudah kenapa harus dipersulit. Sebelumnya saya sudah punya sim c di serang, karena saya pindah ke jakarta jadi saya buat baru karna tdk mau pusing buat mutasi, bolak balik untuk cabut berkas di serang. Tau gini jadinya lebih baik mutasi dr awal.
    Padahal waktu buat sim c di serang saya langsung lulus tes tertulis maupun praktek. Tanpa calo sama sekali. Dan sebelum tes praktek dicontohkan dulu sama pengujinya. Klo dijakarta blum pernah liat penujinnya memberikan contoh praktek. Hanya sekedar penjelasan lisan. Ya berbicara lebih mudah ketimbang praktek memang.
    Maaf kalo kepanjangan, jadi curhat πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™

    Suka

    1. Itu gambar dicomot dr google gan πŸ˜€

      Akhir” ini kayaknya makin banyak diterbitkan peraturan yg asal jadi. Aturan dibuat dulu baru sosialisasi, sayangnya sosialisasinya melempem, coba kita tanya warga di kefamena apa mrk tau soal aturan yg diterbitkan korlantas? Belum lagi soal lampu strobo yg nyasar lampu drl led, padahal kita yg waras pake lampu drl beneran demi keamanan di jalur rawan/gelap yg gak ada aparat bahkan gak ada lampu penerangan jalan, kita tanya lagi ke korlantas apa mrk sudah pernah coba malam hari lewati jalan ngawi ke magetan lewat geneng? Pasti mrk geleng” lewat jalan itu super gelap dan plj-nya spt lilin gak ngefek blas!

      Saya sih merasa aturan bikin sim lewat uji praktek ini memang sangat aneh binti tdk masuk akal, ibarat manusia udah dewasa dianggap jadi bayi lagi di tes jalan kaki, namanya pake motor itu kemampuan teknik fisik manusia seumur hidup kecuali kita kena stroke ato masalah fisik/syaraf lainnya. Ya kan?

      Well, terima kasih bung udah ikut curhat, pasti sangat membantu utk pembaca lainnya.

      Suka

        1. Mungkin pikir si pembuat aturan uji praktek tsb kali aja pengendara motor menemukan ada ayam lg bertelur di jalan πŸ˜„

          Menurut saya akhir” ni di negara ni makin banyak rilis aturan yg tdk masuk diakal sehat bagi kita yg msh waras bro 😎

          Suka

  2. Aduh , ane jg mo bikin .
    Ternyata betul , motor yg disediain buat praktek yg milik polisi tuh gak sesuai dengan yang biasa kita miliki .
    Ada aja kekurangan nya .
    Bagaimana mau lulus tes , motor nya juga aneh .
    Mungkin karena ane ngurus nya sendiri , gak make calo .
    Selain biaya murah , kurang dari 200 ribu .
    Tetapi kalo make calo , bisa 800 ribu .
    Makanya ane gagal , saat praktek .
    Tetapi biarlah , ane mau ikutin prosedur yang benar .
    Mau berapa ratus kali pun ane gagal , ane akan ikuti prosedur yang benar .
    Biarpun banyak kendala dalam ujian sim .
    Cuma ane berharap kesadaran para calo , hentikan kegiatan kalian .
    Karena itu cara yang tidak baik , ingat nafkah yang kalian berikan pada keluarga kalian , kalau dengan cara begitu tidak akan pernah berkah .
    Akan kalian para calo pertanggung jawabkan di akhirnya kelak .

    Suka

  3. Salam kenal,
    Beberapa waktu lalu saya jg musti menghadapi persoalan bikin SIM baru gara2 lupa perpanjang. Haha
    Yg saya alami adalah pelaksanaan ujian praktek di tmpat saya memang tidak sesuai aturan, dan bisa dibilang dipersulit. Aturan terkait prosedur pelaksanaan ujian SIM ada di Perkap No.9 tahun 2012. Apabila tidak sesuai dengan perkap tsb, teman2 sekalian seyogyanya protes atau minimal mempertanyakannya saja ke petugas disana seperti yg saya lakukan kemarin.
    Pengalaman tersebut bisa dilihat di tulisan saya berikut: https://zefanyaaditya.wordpress.com/2017/06/05/pak-polisi/

    Suka

  4. Ayo kita protes. Bikin tagar β€œTinjau Ulang Ujian Praktek SIM Semua Daerah”. Ditempat kami juga ruang geraknya sempit sekali, cuma sisa 10 cm di kiri-kanan mobil uji praktek. Akhirnya orang behenti mencoba dan memilih cari polantas yg mau terima sogok buatin SIM. Reformasi POLRI nya mana pak Tito? atau mau melestarikan budaya suap / sogok?

    Suka

    1. Mungkin ini lg “edisi” nambah pemasukan negara krn pajak yg dburu kurang dr target πŸ˜… jd saya monitoring bbrp bln terakhir aparat sangat rajin razia dmana mana bahkan dluar musim razia juga πŸ˜₯

      Suka

    2. Kalau lihat di youtube β€œUjian Paktek SIM A Di SATPAS Polda Metro Jaya” ruang geraknya cukup lebar /nyaman. Kok jauh beda dengan di daerah kami? Apakah tidak ditetapkan standarisasi lebar treknya pak Tito?

      Suka

      1. Lahan polres d daerah sempit,nyewa lahan luas spy ujian lbh nyaman n fair blm ada sokongan dana x? Jd ya wajar hal gni malah menyuburkan praktek suap dlapangan. Siapa sih yg gk butuh duit klo jalurnya bisa aman?

        Suka

  5. ujian sim A lbh parah bro,, klo sdh mundur gk blh maju, rintangan terlalu sempit, pembatas terlalu pendek, mana bisa dilihat dari spion, ujung2nya duit broo,,,

    Suka

    1. Mampus pula saya nih mana sim a dah mati puluhan tahun ngulang drepotin prakteknya. Shrsnya korlantas polri jg sadar pemilik sim gk perpanjang tepat wkt jg krn blm ada dana.

      Eh pas ada dana malah peraturan baru pake ujian praktek lg.

      Hadeeuhh…setingannya mrk ngerepotin qta qta ya bro.

      Suka

  6. Hehe ampir senasib gan, tapi kalau saya yg masalah motornya
    Dulu waktu ujian praktek cuma ada matic sama motor thunder, karena saya udah biasa pake motor kopling akhirnya pilih thunder

    Sesuai dugaan, motor pasti kurang enak dibawanya karena dari sekian banyak yg ujian cuma dikit yg lulus,

    Kalau saya perhatiin si koplingnya terlalu dalem & kalau dilepas gampang mati. Untung saya perhatiin orang yg gagal & pas baru nyalain bejek2 kopling dulu buat ngerasain πŸ™‚ dan akhirnya berhasil juga ujian praktek sekali tes lulus karena sy maen setengah kopling biar ga mati itu motor ga kaya orang yg lepas full akhirnya pas belok mati motornya πŸ™‚

    Suka

    1. Kadang saya heran dng motor yg disediakan di lapangan satpas tiap polres berbeda” unitnya n kondisinya. Selain itu ukuran halang rintang ujian prakteknya jg gk sama rata khususnya dpolres yg luas lapangan uji prakteknya minim.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s