Tes Periksa Kesehatan SIM Online, MIRIS!?

Melanjutkan artikel pertama saya tentang pembuatan sim baru secara online yang dapat anda baca disini, kali ini saya akan melanjutkan kisah saya membuat sim c baru dari hasil pendaftaran sim online yang saya jalani di hari ini.

So ceritanya hari ini saya hanya tidur 2 jam saja dan terbangun pukul 7, masih berasa ngantuk menguasai tubuh ini. Dan 20menit kemudian dengan segenap kekuatan kamehameha saya memberanikan diri mengalahkan si kasur dan mandi… bahahaha πŸ˜€

Sampailah saya di kantor satpas polres di kota saya tepat jam 7.50pagi. Saya parkirkan motor cuma berjarak 2 meter dari klinik polres, saya pun heran kok area tsb sepi? Biasanya setiap pagi pasti jam 7 sudah ramai berkumpul calon pemilik sim untuk periksa kesehatan sebagai bagian syarat pembuatan/perpanjangan sim-nya. Saya meneruskan langkah masuk ke klinik polres dan terdapat dua petugas (pria dan wanita) dan bertanya

“Pak, cek kesehatan sim online disini seperti biasa?”
Polisi laki ini menjawab dengan wajah agak sedikit heran “SIM Online pak? Maksudnya gimana ya pak?”

Saya malah tambah heran, lah…ini aparatnya kok malah tanya balik ke saya? Bukannya seharusnya udah tau donk ya tentang sim online yang dilaunching langsung oleh pemimpin tertinggi korps bhayangkara beberapa hari lalu? Akhirnya saya sederhanakan saja pertanyaan saya..

“Pak, tes periksa kesehatan sim c baru masih sama di klinik polres ini?”

Si polisi ini barulah ‘paham’ dan menjawab “Oh, sekarang gak disini lagi pak, sudah pindah ke dokter xxxx.”

Saya kaget tuh waktu denger tes/periksa kesehatan sekarang sudah dipindah ke klinik dokter swasta (yg mana tempatnya cuma 200m doank dari klinik polres itu). Saya tanya lagi “Sudah berapa lama pak dipindah untuk periksa kesehatan?”

Polisi ini menjawab “Sekitar sudah 3 bulanan pak.”

Saya mengeluarkan copy registrasi sim online, menunjukkan ke polisi itu dan bertanya “Pak, ini saya sudah registrasi sim online, habis periksa kesehatan lalu lanjut kemana?”

Polisi laki ini melihat kertas registrasi sim online tersebut dengan wajah heran lagi (sptnya ini polisi bener-bener belum paham alur sim online) lalu karena saya pikir kelamaan saya jawab sendiri aja “OK gni aja pak saya ke klinik dokternya, nanti saya tanya disana aja pak. Makasih pak.” Dan kaki ini melangkahkan ke klinik dokter.

cekup1
ramenya

Klinik dokter ini masih terhitung baru di kota saya, ya dokter masih muda, baru beberapa tahun nongol dan namanya sudah mulai dikenal dan diterima masyarakat di kota saya karena kata orang yang periksa disana (kebetulan ibu saya jg pernah periksa di dokter itu – saya jg yg antar jemput) resep obat dari dokter ini manjur plus harga periksa-nya murah. Tapi disini saya tidak akan membahas kemampuan dokter tersebut dari ranah medis umum, yang akan saya bahas tentang ke periksa kesehatan untuk syarat sim.

cekup2
sampe menjalar ke halaman
cekup3
antriannya bro!

Dari jauh sudah terlihat rumah si dokter ini rame orang ngantri, antara ngantri sebagai pasien umum dan pembuat sim. Ruangannya dipisah untuk pasien umum dan yang perlu untuk pembuatan sim. Sampai di tempat ini, langsung menuju bagian pendaftaran, menyerahkan 1 lembar fotocopy ktp. Setelah menunggu kurang lebih 40 menit, giliran saya dipanggil, diukur tinggi badan dan ditanyai keperluan saya untuk pembuatan/perpanjangan sim apa. Yang aneh adalah saat giliran saya diukur tinggi badan. Pertama kali saya buat sim dimasa usia muda, tinggi badan saya 178cm, lalu di perpanjangan sim pertama tinggi badan sudah 180cm dan bertahan hingga usia ini. Tinggi badan saya pun yang mengukur pihak staff klinik polres di jaman dulu langsung terukur dengan pengukur kayu itu loh dan benar tinggi saya adalah 180cm, namun di tempat klinik dokter ini….saya diukur dng pengukur metal…tinggi saya malah jadi berkurang, yang sudah jelas 180cm menjadi 175cm, itupun diukur 2x untuk memastikan karena saya sudah bilang tinggi saya 180cm tapi diukur di klinik dokter jadi 175cm saya jelas heran donk ya, karena tinggi badan manusia itu sudah tetap saat sudah masuk usia non aktif pertumbuhan lagi. Saya ukur di rumah pun pake meteran baju itu pun dapatnya 180cm…aneh tho? Ok daripada kepanjangan cuma mikir tinggi badan di klinik dokter itu, saya IYA-kan saja dicatat tinggi badan 175cm.

cekup4
kok bisa tb saya turun 5cm?

Tiba giliran saya dipanggil ke dalam ruangan periksa kesehatan. Di dalam ada 3 meja, 2 meja dengan 2 staff dan set komputer dan printer, satu meja di pojok dalam adalah meja dokter. Anda tahu apa reaksi saya melihat isi ruangan periksa syarat kesehatan sim seperti itu? Yang saya rasakan adalah KECEWA BERAT! Pikir saya, ini klinik apa ruangan kerja rental ketik komputer?

Duduk di kursi, saya mulai di tes ‘kesehatan’… dan anda tahu seperti apa tes ‘kesehatan’ yang dijalani semua peserta pembuatan sim di klinik dokter ini? Ya elah…saya makin kecewa lagi dengan metode ‘cek up’nya!!

1. Di meja dokter ini terdapat dua alat bantu untuk periksa ‘kesehatan’. Alat bantu pertama adalah standard cek mata, untuk melihat kemampuan mata peserta dalam melihat anomali warna. Bentuknya aneka ragam warna berbentuk bulat dan di dalamnya kita menebak angka yang dibentuk dari rangkaian warna. Alat bantu ini dari awal saya bikin sim pertama kali di usia muda sampai sekarang tidak berubah! Alat bantu kedua hanyalah potongan kertas dan tertulis kata-kata yang harus kita baca (ingat..baca..bukan dieja). Alat bantu pertama cuma menebak 3 angka saja, lalu alat bantu kedua membaca dua kata, seingat saya kata: klorofil dan apa ya satunya…duh pikun neh πŸ˜€ Dan hanya 2 tes itu saja lalu saya dinyatakan LULUS ‘UJI KESEHATAN’.

Anda tahu betapa kecewanya saya tes ‘kesehatan’ yang saya jalani cuma segitu doank!? Maaf, saya bukan merasa superior soal kesehatan. Tapi menunggu 45 menit, dan di dalam cuma tes kurang dari 5menit lalu dinyatakan LULUS ‘KESEHATAN’ seperti itu saja jujur ya dalam hati saya merasa ‘ngilu’. Dari rumah, saya berangkat, dan ini sudah kesekian kalinya saya akan memiliki sim lagi, saya sudah berharap tes kesehatan dalam rangka reformasi korlantas polri akan menjadi lebih ketat lagi.

Yang saya harapkan adalah:

1. Dokter bertanya, apakah peserta termasuk kidal atau tidak.
2. Dokter bertanya, apakah peserta memiliki riwayat sakit berat dalam 1 tahun terakhir atau riwayat penyakit turunan yang mengganggu kinerja mengoperasikan kendaraan sesuai sim yang diminta dan atau bertanya apakah menjalani operasi berat dalam 2 tahun terakhir?
3. Dokter bertanya, apakah peserta memiliki masalah dalam penglihatan di dalam kegelapan atau tidak?
4. Dokter bertanya, apakah peserta memiliki riwayat medis yang mengarah pada kelemahan otot tertentu dalam kondisi tertentu?
5. Dokter memeriksa tensi darah, detak jantung.
6. Dokter memeriksa golongan darah peserta.
7. Dokter bertanya, apakah peserta mengkonsumsi jenis obat tertentu untuk menunjang kehidupannya?
8. Dokter bertanya, apakah peserta menggunakan alat bantu untuk mengoperasikan kendaraan sesuai sim yang diajukan?
9. Dokter bertanya, apakah peserta mengalami kecanduan obat tipe tertentu atau menggunakan zat psikotropika dan atau pernah mengkonsumsi alkohol dan bertanya jumlah konsumsi dan tingkat konsumsinya.

Alih-alih memperketat proses periksa kesehatan, ternyata reformasi untuk mendapatkan sim dengan syarat kesehatan hanya dilakukan pada tes sederhana untuk membaca dan membedakan anomali warna saja. Dan dua tes ini saya malah jadi pertanyakan:

Apakah cukup dengan dua tes alat bantu sederhana seperti itu bisa menyakinkan bahwa peserta dinyatakan sehat jasmani untuk mengoperasikan kendaraan yang sesuai dengan sim yang diajukan!?

Memang sih itu tes alat bantu mungkin sudah dpikir utk tes dasar melihat warna rambu lalu lintas, membaca perintah rambu lalu lintas dan membedakan warna petunjuk pada kendaraan.

Setelah saya dinyatakan lulus ‘kesehatan’, saya ditagih biaya periksa ‘kesehatan’ sebesar Rp.40.000. Anda pembaca perlu tahu, sebelum saya diperiksa kesehatan, di hadapan dokter ini saya berkata “Pagi dok, untuk periksa kesehatan ini, saya tidak memerlukan asuransi bhayangkara, itu tidak wajib”. Anda tahu dokter tsb menjawab bagaimana? Dokter ini menjawab “Wah kalau soal itu saya tidak tahu mas”. Dan ibarat hakim ketok palu, saya tetap dikenakan biaya Rp.40.000.

cekup6
40 ribu utk jasa periksa ‘kesehatan’ tertulis sdh termasuk pajak tp gk ada kejelasannya?

Lalu saya dialihkan ke meja sebelah, duduk, seorang petugas mencatat lagi data saya dari fotocopy ktp yang saya sempat berikan ke petugas pendaftaran. Saya disini juga heran lagi, kok masih perlu mencatat data e-ktp saya lagi. Saya pun bertanya ke petugas input data ini..

“Mas, nyatat data lagi, itu data disimpan untuk keperluan dokter atau untuk polres?”

Petugas ini (tidak berpakaian dinas kepolisian) menjawab “Ini datanya dicatat untuk polda pak.”

Saya balas lagi “Mas, saya kesini sebelumnya sudah daftar sim online” (saya tunjukan kertas print registrasi sim online milik saya) ke petugas itu.

Petugas tsb, usianya lbh muda dari saya, heran…wajahnya juga sama spt wajah si polisi pria di klinik polres… dan akhirnya saya jelasin lagi deh..

“Mas, itu bukti registrasi saya sim online di korlantas mabes polri. Mas butuh datanya gak?”

Petugas ini dengan bimbang, lalu bersuara “Saya minta satu pak.” Dan saya IYA-kan saja.

cekup5
kok spt ibarat nyogok surat resep ya?

Dan data peserta dicatat, masih pake di capture wajah juga pake webcam murahan 80ribuan yg biasa dipake diwarnet. Tunggu bbrp menit, hasil tes ‘kesehatan’ langsung dicetak / di print dan diberikan ke saya. Setelah itu saya menuju polres.

Kepada Korlantas Mabes Polri, saya menulis ini untuk memberi masukan reformasi tes kesehatan peserta sim. Saya tidak bermaksud mengucilkan perihal ini, saya ingin menekankan mengapa tes periksa kesehatan itu seharusnya (menurut saya) makin diperketat atau dibuat lebih baik untuk memastikan kesehatan peserta. Saya berharap tes kesehatan peserta pembuat sim itu bener-bener lebih real dan berkembang sesuai jaman!

Entah kenapa, saat ini saya merasa kangen dengan pemeriksaan kesehatan yang dijalankan di klinik polres bhayangkara.

Sekedar info tambahan, periksa sebagai pasien umum di dokter ini, dengan Rp.50.000 sudah biaya pemeriksaan dan obat generic yang mumpuni. Lah ini periksa ‘kesehatan’ dng 2 alat bantu tanpa cek fisik peserta pembuat sim, gak ada 5 menit udah kena Rp.40.000. It just doesn’t make sense for me.

Berlanjut… di artikel berikutnya…

Iklan

6 thoughts on “Tes Periksa Kesehatan SIM Online, MIRIS!?

  1. Selamat siang, wah pengalamannya menarik, saya juga kecewa dengan tes kesehatan untuk memperpanjang sim baik di tempat Anda, maupun di tempat saya..
    Di detik yang saya baca tes kesehatan bisa dilakukan di puskesmas, namun ternyata tidak lengkap karena tes pendengaran tidak ada fasilitasnya di puskesmas tempat saya melakukan tes, dan menurutnya bisa dilakukan ke dokter spesialis tht.. tes kesehatan di puskesmas hanya buta warna dan keterangan sehat seharga 10ribu dan biaya pendaftaran 3ribu, masih masuk akal.. saat saya menanyakan ke medika tes pendengaran karna dilakukan oleh spesialis harganya 100ribu ke atas, wah mahal ternyata mending dilakukan di tempat sim kelilingnya saja lgs
    Namun msh jd pertanyaan pula apakah dokter yg memeriksa kesehatan, penglihatan, pendengaran itu mumpuni.. pdhal biayanya 40ribu, ko seenaknya petugas polisi bilang tes kesehatan saya yg dilakukan di puskesmas tidak lengkap karna tidak ada tes pendengaran.. pdhal toh saya ketahui tes di dokter yg dianjurkan polisi trsbut di klinik yg dkt polres nya juga sama2 tidak memfasilitasi tes pendengaran ko
    Saya sendiri aneh dgn keadaan yg ada
    Ingin protes tp kemana dan apa ada yg peduli, niat saya ya sebagai masyarakat cari yg terjangkau harganya makannya memilih tes di puskesmas karna pelayanan yg diberikan dgn di klinik yg direkomendasikan polres sama saja

    Suka

    1. Posisi anda di kota mana?
      Dr jaman saya pertama x dan org” dikota saya bikin sim a,b,c gak ada yg namanya tes THT. Mentok cuma cek golongan darah dan tes buta warna saja.

      Dan seiring wkt, cek gol.darah hilang ditelan angin…dan cuma ada tes buta warna saja sampai saat ini.

      Jadi jujur saya heran itu kok bisa ada tes THT itu dkota mana dan utk syarat cek up sim apa. Supaya bisa saya tanyakan ke korlantas mabes polri.

      Suka

    1. Tes buta warna sudah termasuk saat qta baca angka di pola warna mas. Hanya saja tidak spesifik mengarah ke pembedaan warna.

      Mungkin ada jin goib yg dberi makan tinggi badan manusia makanya rata” yg ukur tinggi badan bikin sim bisa menyusut tingginya πŸ˜€

      Suka

        1. Berarti cek kesehatan hanya formalitas saja yg sudah dikomersialkan dan apesnya skrg dserahin ke oknum dokter umum yg memeriksa hanya sesuai prosesur yg sdh dtetapkan oleh pihak kantor polisi buktinya kita tidak mendptkan cek up umum yg biasa dlakukan dokter.

          Miris bener dah 40rb melayang pun itu kertas cek up hanya valid 3 minggu aja klo gagal uji sim teori n praktek ulang lg cek up medisnya…

          Miris binti kampretos

          Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s