Tukang Parkir Abal Abal Sialan

Saya rasa sudah makin umum di Indonesia, profesi tukang parkir seringkali kita lihat dimana saja. Disini saya akan menuliskan pengalaman pribadi saya dari pengamatan langsung di tkp tentang tukang parkir.

Disini saya tidak akan membedakan tukang parkir dengan oknum tukang parkir, karena pada dasarnya susah menemukan tukang parkir beneran selama saya berada di beberapa lokasi di berbagai kota di Indonesia. Tapi disini saya perlu tekankan apa yang akan saya tulis bukan berlaku saklak dan umum ke semua tukang parkir di indonesia, yang saya tulis disini hanyalah segelintir tukang parkir yang sudah termonitor mata saya dan berkomunikasi secara langsung karena beberapa kejadian. Buat saya tidak ada bedanya tukang parkir dengan juru parkir!

Salah satu alasan saya menulis artikel ini adalah karena diam itu sama juga dengan pembiaran! Dan saya sudah muak dengan hanya sekedar diam memaklumi! Dan ini bukan persoalan tentang ngaku wong cilik, tapi soal moralitas!

Saya mulai dari uneg-uneg awal…. sesuatu yang jelas terjadi di depan mata saya sejak 2006 di kota saya. Kebetulan di tahun itu saya bekerja di sebuah toko di kota saya. Di depan toko tsb, memang ada lahan parkir resmi oleh dishub dengan dibuktikan adanya rambu-rambu parkir dan dilarang parkir. Panjang area parkir di depan deretan toko tsb sekitar 100m jadi cukup panjang juga. Parkiran itu dkhususkan untuk motor. Nah saya sering mengamati nih, tukang parkir yang biasa ‘pegang’ area tsb itu siapa saja sih setiap harinya, jam kerjanya brp lama sih, kerja bener gak sih, dan apa ada anehnya. Saya mengamati tukang parkir yg di deretan toko tsb tidak pake kartu tanda pengenal, celana jeans compang camping, jaket oranye tukang parkir pun tidak ada nama dan tidak dikencangkan. Memang ini
tukang parkir kerja bener dlm artian dia jagain motor, diberi tutup jok dari bahan spanduk yang merupakan sumbangan dari dealer motor, dan merapikan motor. Yang mulai jadi keanehan itu adalah ketika si pemilik motor mau ambil motor di parkiran, si tukang parkir dibayar dan tidak memberikan karcis parkir. Kalaupun dminta diberi kertas parkir bekas yg sudah terpotong. Si tukang parkir menerima duit parkir Rp.1000 per motor per parkir. Dan anda tahu berapa tarif resmi parkir motor di pusat kota saya? Untuk kendaraan roda dua tarif resminya adalah Rp.500 saja, dan untuk mobil Rp.1000. Selama sebulan saya di toko itu saya belum pernah
melihat tukang parkir itu memberi kembalian 500 rupiah-an dari pemberian per 1000 rupiah. Saya juga seringkali melihat tukang parkir itu meminta atau bahasa kasarnya menyerahtugaskan parkir motornya ke pedagang asongan yg spt kita lihat di dlm bis. Apesnya lagi ini pedagang asongan sama sekali tidak berkualifikasi, dan terlihat sekali sptnya ada gangguan mental. Tapi si tukang parkir memberikan jas oranye- nya ke si pedagang asongan itu ketika jam makan siang ato lagi ada perlu sebentar.

Nah beberapa bulan lalu saya juga monitoring nih, sembari nungguin ibu saya keluar dari toko di sore hari, saya melihat tukang parkir lainnya masih di deretan toko tempat saya pernah kerja dulu. Saya berani jamin 1000% tukang parkir yang saya lihat yang menjaga motor di seberang depan deretan toko tsb memiliki masalah mental. Saya dan orang-orang di sore hari itu sudah terlalu sering melihat si tukang parkir itu ngomong dan ngamuk sendiri, bahkan si pemilik motor yg kebanyakan perempuan takut memberi uang parkir ke tukang parkir tsb. Sampai saat ini tukang parkir gangguan mental itu masih kerja spt biasa. Dan semua tukang parkir di
area toko tsb selalu menarik duit Rp.1000 per motor per parkir.

Ini kejadian asli di kota saya, dan ini sudah berlangsung 10 tahunan lebih. Lalu saya akan cerita pengamatan lainnya di kota saya. Saya mendapati hal menarik dan menjadi pertanyaan.

Di kota saya setiap ada usaha baru yang menempati suatu bangunan, apalagi yang dipinggir jalan raya, saya berani jamin 1000% ibarat pepatah ada gula ada semut, ada usaha baru dijamin akan muncul tukang parkir ‘resmi’? Resmi disini adalah dari penampakannya saja cuma bermodal jaket oranye tukang parkir itu. Tapi soal keabsahan ijin jadi tukang parkir itu yang gak pernah ditampakkan.

Lalu kejadian ini saya alami 2 bulan lalu. Saya buka usaha kecil-kecilan satu hari dalam seminggu hanya 4 jam saja di sebuah area kompleks jalan kecil yg biasa dipakai untuk usaha jual beli sayuran dan makanan kecil. Saya pakai lahan kurang dari 1.5m saja dng membawa gerai jualan sendiri seukuran 1m. Nah pertama saya tidak tahu nih itu tempat untuk parkir motor, 20mnt setelah pertama saya tempat, nongol-lah bapak tua berpakaian tukang parkir langsung menghampiri saya dan berkata “Mas, jangan jualan disini, ini untuk parkir, pindah kesana mas (menunjuk tempat yang makin jauh dan persis di depan bak sampah umum).” Saya pun jawab “Saya gak tau ini tempat parkir, tidak ada papan tanda parkir kendaraan di area ini. Besok saja saya pindah.” Dan minggu depannya saya berjualan lagi masih di area yang sama, ketemu lagi dng bpk parkir ini dan ini tiap ketemu selama 1.5bln ini tukang parkir gak pernah bisa terima saya menempati lahan 1.2m itu. Pada pertemuan yang kedua, saya lawan saja sewaktu tukang parkir yg sudah berusia 50tahunan ini meminta saya pindah (meminta dng kasar-mengusir). Saya jawab saja “Pak, situ tukang parkir resmi? Mana kartu pengenal dan surat tugasnya?Bapak tau mengaku jd tukang parkir resmi itu melanggar hukum, melawan gubernur  jateng, bisa dipidanakan dipenjara?”. Bapak tua tukang parkir ini masih dng ego-nya berusaha melawan “Ok, silahkan kalau mau penjarakan saya, saya gak apa apa.”

Ya ampun, ini bapak udah tua udah jelas cari duit ilegal disadarin baek baek kok ya masih aja ngelawan. Saya usaha kecil”an disitu mulai minggu kedua pun sudah cek di area itu dan memang bukan area resmi parkir, karena sebenarnya itu jalanan gang umum milik warga bukan termasuk diatur pemda. Dan di minggu ke-tiga saya lapor neh dng warga setempat di area situ, dan tidak ada satupun warga disitu yang keberatan saya jualan di lokasi situ. Dan saya pun di dukung warga untuk lapor ke rt/rw kalau si tukang parkirnya masih membandel. Dan akhirnya 2 minggu lalu saya dengan keras kasih warning ke bapak tua ini “Pak, saya cari nafkah halal neh, situ udah tahunan cari nafkah gnian, kalau bapak masih membandel saya bisa kumpulin warga disini untuk usir semua tukang parkir di area ini (ada 3, 2 orang usia diatas 50, 1 orang perkiraan 35-40thn)”. Si tukang parkirnya diam, tapi yang bikin saya gak habis pikir ini 3 tukang parkir abal abal udah jelas cari duit gak halal, selalu nerima per motor parkir Rp.1000 tanpa kembalian dan tanpa karcis pula. Maksud saya mengingatkan itu agar bpk ini sadar aja kembali ke jalan yg benar, cari duit halal aja buat nafkahi keluarganya. Apalagi di bulan puasa ini seharusnya insaf.

Tapi ini soal isi perut, moralitas sudah gak ada artinya lagi. Yang penting bisa dapat duit aja. Tapi saya sudah merasa cukup, karena saya menghitung, tiap hari minggu itu hari paling ramai parkir dan berjualan, hari senin-sabtu sepi gak rame. Nah tiap hari minggu setidaknya si bapak tua ini mengantongi ada minimal 10 ribu atau 10 motor, paling banyak pernah saya hitung ada 23 motor.

Katakanlah hari biasa 5 motor x 6 = 30, Hari minggu 20 motor. 30 ribu + 20 ribu seminggu udah 50rb. Sebulan paling tidak 200rb (saya yakin lbh dari ini, ini itungan kasar aja yg saya hitung). Dari penelusuran saya, ini grup tukang parkir abal-abal udah tahunan ‘menguasai’ area itu. Dari 3 tukang parkir hanya bapak ini yg bandel dan terlalu menganggap dirinya mampu mengatur dan menguasai lahan. Padahal di area situ warga tidak pernah ada yang me’ngontrak’ tukang parkir utk mengatur motor disitu. Jadi bisa anda coba hitung sendiri kira-kira udah berapa juta bapak satu itu mengantongi duit selama beroperasi disitu?

Saya gak bisa hanya sekedar diam, menyaksikan banyak orang memparkir di tempat parkir bebas, bukan parkir yg diatur pemda, gak diatur warga setempat juga, tapi bisa ada tukang parkir yang menagih uang parkir dan ini berlangsung tahunan. Jadi bisa dibayangkan betapa banyak orang di’tipu’ bayar parkir ke bapak ini? Dan tidak ada satupun orang yang menyemprot bapak ini sehingga bisa leluasa santai atur orang di area itu. Bahkan saya cek baru saya aja yang berani vokal bersuara dan menyemprot tukang parkir ini di lapangan langsung dilihat pedagang
laen dan warga disitu.

Saya pun sudah mengingatkan bapak ini agar insaf, tapi masih membandel. Jadi saya mengatakan “Pak,anda kalau masih spt ini, saya terpaksa laporkan ke dishub. Jika dishub tidak memproses laporan saya, saya akan ngetwit ke pak gubernur jateng (pak ganjar) agar diproses.”

Coba anda bayangkan kalau kita diam saja, betapa sepele hal kecil dibiarkan, membiarkan orang yang biasa ngaku rakyat kecil untuk kelakukan tindakan penipuan dan korupsi dng dalih tukang parkir.

Buat saya tukang parkir ini dilema, dan saya tidak tahu bagaimana pemda mengatur perparkiran di wilayahnya. Bahkan selama saya ditempat itu saya tidak pernah melihat aparat dishub melakukan cek lapangan merazia tukang parkir, hal ini spt pembiaran korupsi perparkiran saja.

Yang saya tahu adalah:

1. Tukang parkir wajib menggunakan atribut kerja resmi, mulai dari tanda pengenal dan pakaian kerja. Nah masalahnya tidak ada website pemerintahan yang menjelaskan soal atribut kerja tukang parkir resmi itu spt apa? Apakah sama semua seluruh indonesia atau per wilayah pemda beda-beda?

2. Yang pasti tukang parkir resmi itu wajib memperbaharui surat tugasnya setiap 3 bulan sekali di wilayah pemda setempat. Surat tugas berisi area wilayah kerjanya, tapi saya tdk menemukan apakah surat tugas berisi hari dan jam kerja.

3. Tukang parkir resmi selalu menarik tarif resmi dan memberi karcis. Tapi di lapangan bahkan tukang parkir resmi pun bisa ditemukan tidak melakukan tindakan ini.

Ini buat saya ibarat pengemis berkedok jadi tukang parkir, entah kemana itu duit melayang. Karena saya juga pernah berkata ke bapak tukang parkir ‘resmi’ itu “Situ yang pegang area ini apa punya beking? Kalau ada beking suruh kesini temui saya sekarang kalau gak kasih tau siapa bekingnya saya datangi.” Bapak ini menjawab “ya nanti ketemuan aja.” Saya jawab “Gak usah pake nanti nanti, sekarang aja ayo!” Bapak ini menjawab “Sekarang saya lagi kerja!” Dalam hati saya “Kerja pala lu anjing, udah kerjamu gak halal pake acara nanti nanti ngeles segala, untung situ udah berumur, kalau seumuran saya udah ribut kepal bogem mentah disini!” Dan sampe saya selesai dagang pun ini bapak malah menjauh padahal saya nungguin
bapak ini. Sampe saya pulang jalan kaki bawa etalase dagang saya pun bapak ini gak manggil saya.

Saya sudah sering mendengar ajakan pemerintah agar kita tidak membiasakan memberi uang ke pengemis/gembel di lampu merah atau di jalan macet. Karena itu tidak mendidik, menjadikan pengemis menjadi profesi. Anda pasti tau donk penghasilan bulanan pengemis bahkan bisa jadi lebih banyak dari penghasilan anda? Nah ini juga pengemis berkedok jadi tukang parkir ‘resmi’… apa ya kita akan terus membiarkan ini terjadi? Hanya karena soal urusan perut dan wong cilik apa ya kita akan terus diam cuek saja dan menganggap hal cari duit gak halal yang dilakukan tukang parkir ‘resmi’ itu adalah hal wajar walau jelas itu salah!?

Biarlah hati nurani anda menjawab, tapi posisi saya sudah jelas… saya tidak akan tinggal diam. Dan saya sudah memiliki bukti otentik di lapangan, dan akan melaporkan ke dishub setelah lebaran usai dan akan memonitor laporan saya di dishub, bagusnya adalah gubernur jateng ini sangat terbuka pada masyarakat, laporan pelanggaran hukum sekecil pun gak akan disepelekan.

Bagi anda mungkin saya terlalu melebihkan, tapi jika perbuatan jelas menipu banyak orang dari menarik uang parkir ilegal itu wajar dan dibiarkan saja…manakah yang akan jadi contoh baik untuk anak-anak kita nantinya? Sekali lagi ini bukan persoalan tukang parkir tsb adalah wong cilik, tapi soal moralitas. Dengan berkedok wong cilik sama juga menganggap semua wong cilik itu mencari nafkah dng cara gak halal ya
tho? nah saya juga wong cilik, anda mungkin kenal juga dng rakyat kecil lainnya yang walau hidup susah tapi masih bisa jujur cari nafkah halal juga.

Sekali lagi, jika kita diam maka sama dengan pembiaran hal yg salah menjadi kewajaran, lama-lama jadi kebiasaan dan akan membentuk menjadi budaya. Budaya yang salah yang dianggap lumrah. Anda mau indonesia jadi bgini terus!?

Iklan

8 thoughts on “Tukang Parkir Abal Abal Sialan

    1. Tergantung jg gan… macem” ame aye urusannya bisa ribet dianya sendiri 😄 mau cara lembut bisa cara keras aye jg bisa 😄 premannye siapa ntar d area situ jg tau bahahaha

      Suka

      1. Posisiku sebagai orang yg rumah di pinggir jalan sih, dan sama terminal cuma jarak setengah kilo.. kalau ada angkotangkot atau supir travel yg hobinya parkir di wilayah rumah, kalau ditegur ga mempan, terus ditegur keras.. kalau ada baranf didepan rumah hilang, kesannya ga peduli dan tampangnya kaya “ngapokin”

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s