Tidak Ada Motor Yang Irit BBM!

Mungkin sebagian dari kita pengguna motor matic kurang setuju ya dengan judul artikel saya ini? Ya itu hak anda, tidak ada unsur pemaksaan disini. Tapi sebelumnya, ijinkan saya menjelaskan maksud judul artikel ini dari persepsi saya.

Saya menulis ini dari pengalaman pribadi saya, dari analisis pribadi saya. Dengan menggunakan motor bebek lama saya keluaran 2014 yaitu Yamaha Jupiter Z1 Injeksi dengan motor matic karburator keluaran 2011 yaitu Honda Spacy.

Saya ingin menerangkan bagaimana perbedaan tingkat keiritan konsumsi bbm diantara kedua motor yang pernah saya gunakan tersebut bisa terjadi.

Tentu tidak bisa serta merta dibandingkan dari jenis mesin itu sendiri, satunya jenis cvt belt matic, satu lagi jenis berpenggerak gir/rantai. Juga tidak bisa seutuhnya dibandingkan dari bagaimana bbm itu disalurkan, satunya masih berkarburator, satunya lagi sudah injeksi.

Sewaktu saya menggunakan jupiter z1 injeksi 2014, saya memang merasakan motor bebek yamaha ini termasuk penurut dengan tingkat konsumsi bbm berbanding dengan jenis bbm berbanding dengan cara saya membetot putaran gas-nya. Motor bebek ini memang buat saya termasuk bertenaga liar, tidak salah mekanik resmi yamaha mengatakan tenaga jupiter z1 injeksi itu lebih liar lebih gede dibandingkan vixion (hei..mekaniknya sendiri yang berkata spt itu!) walau cuma 113cc tapi bisa menekuk vixion lebih mudah. Memang jupiter z1 injeksi buat saya termasuk bebek liar, tenaganya benar-benar nendang dari putaran bawah sampai putaran atas bisa saya katakan stabil dan bertenaga. Tapi itu ada tapinya, semua itu bisa tercapai jika menggunakan bbm yang tepat, spek oli yang tepat plus busi yang tepat.

Perbandingan konsumsi bbm jupiter z1 injeksi 2014:
1. Premium: 30km, dng rata-rata kecepatan 60kpj.
2. Pertalite: Belum pernah dicoba karena belum pernah menemukan spbu pertalite di jaman saya punya jupi z1 injeksi.
3. Pertamax: 36-39km, dng rata-rata kecepatan 60-80kpj.

Semua hasil konsumsi bbm diatas bisa diraih di kondisi jalanan mendatar, jikapun menemukan kondisi jalanan macet dan menanjak, perubahan konsumsi bbm-nya tidak terlalu signifikan, paling tidak hanya berkurang 1-2km saja dari konsumsi bbm yang seharusnya bisa dicapai tsb. Dan itu diraih dengan berat pengendara dan barang bawaan sekitar 113kg. Oli castrol power 1 gold bottle 10w-40 semi synthetic, dan busi iridium bosch.

Untuk saya pribadi, kondisi yang membuat konsumsi bbm di jupiter z1 injeksi 2014 menjadi lebih cepat boros ada di bagian rantainya dan ini sudah saya buktikan sendiri, kalau rantai-nya kendor, kurang tepat disetingnya, tenaga yang dikeluarkan tidak mampu disalurkan dengan baik ke roda belakang, jadinya saya harus menambah putaran gas lagi agar tenaganya lebih bisa ‘sampai’ ke roda belakang.

Bagaimana dengan motor matic, yang jadi bahan perbandingan langsung adalah Honda Spacy 2011 yang masih menggunakan karburator. Memang sangat berbeda jelas karburator dan sistem injeksi, tentu lebih akurat sistem injeksi. Tapi jelas keduanya menghasilkan performa yang berbeda pula selain hal konsumsi bbm semata.

Spacy saya sudah mencicipi premium, pertalite dan pertamax, sayangnya belum pernah pertamax plus karena susah menemukan bbm yang menyediakannya. Sudah dari agustus 2015 akhir si spacy ini ada di kendali saya. Dari yang awalnya masih premium, lalu minum pertalite dan sekarang sudah permanen pertamax. Hasilnya memang terasa banget untuk performa dan keiritan konsumsi bbmnya. Disini saya akan ambil setingan terakhir spacy saya: Roller 10gr, Per CVT 1500rpm, busi standard, oli XTEN XT-30 matic 10w-30, ban depan 80-90, ban belakang 100-80, berat pengendara dan barang tambahan total 111kg.

Dulu jaman belum spek diatas, jaman masih premium dan onderdil standard spacy, saya merasa memang si spacy ini termasuk boros untuk dalam kota dan luar kota, dan akan sangat lebih cepat terasa borosnya ketika melalui jalanan menanjak dari kertek ke parakan. Jarak 35km ditebus dengan konsumsi bbm yang awalnya full tank premium 5liter hanya tersisa garis tengah fuel meter spacy atau hampir sisa sekitar 2.5liter saja. Borosnya ini karena spacy tidak kuat menanjak di sehingga bbm yang ada harus lebih banyak dibakar agar tenaganya tetap dapat konstan saat menanjak.

Lalu beralih ke kondisi yang sama tapi kali itu diisi dengan murni pertalite 5 liter full tank. Dengan melalui jalanan yang sama sejauh 35km, pertalite cukup memberi tingkat keiritan bbm yang lebih baik dibandingkan dengan premium. Tapi tidak terlalu signifikan memang, karena oktober 2015 saya ke semarang si spacy ini selalu minum pertalite tapi menurut saya tingkat konsumsi bbm-nya masih belum terlalu irit, paling perbedannya hanya 10% lebih irit dari premium. Perbedaannya lebih ke persoalan tenaga saja yang dihasilkan dari penggunaan pertalite di spacy saya tenaga jauh lebih stabil dan tidak mbrebet tapi masih kurang nendang di jalanan menanjak, tapi sudah lebih baik di jalanan mendatar.

Kemudian terakhir dengan spek diatas plus pertamax full tank 5 liter. Yang saya rasakan spacy memang jauh lebih cocok dengan pertamax, baik di dalam kota dan luar kota. Tenaga yang dikeluarkan jauh lebih stabil dan bertenaga lebih baik walau di jalanan menanjak. Tingkat konsumsi bbm keluar kota jauh lebih baik dibandingkan penggunaan premium dan pertalite, full tank 5 liter pertamax sejauh 35km ke parakan hanya menghabiskan 1 liter saja, bahkan jarum fuel meter yang biasanya sudah mau nempel ke garis tengah ini hanya nempel tidak jauh dari garis full fuel meternya. Yang jelas spacy tidak pernah mbrebet, tenaga jadi lebih konstan, ditarik gasnya lebih ringan bertenaga dan mudah dihidupkan di cuaca dingin dengan kick starter sekalipun.

Tingkat konsumsi bbm spacy karburator 2011 versi pengalaman saya untuk luar kota:

1. Premium: 1:30km
2. Pertalite: 1:32km
3. Pertamax: 1.36km.

Untuk dalam kota penggunaan premium benar-benar tidak irit sama sekali di spacy saya. Untuk pertalite dalam kota pun iritnya belum signifikan meninggalkan premium. Tapi untuk penggunaan pertamax dalam kota, tingkat keiritannya memang jauh lebih signifikan dibandingkan premium dan pertalite, sama dengan konsumsi keluar kota 1:36 dengan rata-rata kecepatan dalam kota 60kpj.

Untuk motor jenis matic cvt, konsumsi bbm yang boros dari pengalaman saya umumnya disebabkan oleh:

1. Kontur jalanan yang dilalui, semakin banyak menanjak, mesin cvt baik dia karburator/injeksi akan semakin menyedot bbm untuk dapat menjaga putaran tenaga yang konstan saat menanjak. Anda tidak bisa bayangkan betapa ngeri-nya ketika mesin cvt diajak menanjak, malah tenaganya tidak konstan atau menjadi loyo, yang ada malah mesin bisa mendadak mati/loss power dan anda harus siap dengan pengereman ketika itu terjadi. Sangat jarang terjadi di motor bebek/laki ketika menanjak jenis bertenaga gir/rantai memang jauh lebih stabil (di gigi 1) tanpa mengorbankan konsumsi bbm yang berlebih. Disini perbedaannya memang ada di jenis penggerak mesinnya itu sendiri.

2. Tingkat beban penggunaan: Semakin berat beban diatas motor matic, semakin mudah pula bbm terserap untuk dibakar demi mempertahankan tingkat putaran tenaga yang seharusnya. Berbeda dengan motor non matic, perubahan beban tambahan diatas motor tidak selalu menjadi alasan utama konsumsi bbm menjadi boros, namun hal ini lebih dipengaruhi dari bagaimana kekuatan dan seting rantai yang tepat ketika motor non matic digunakan untuk memuat beban berlebih.

3. Jenis media jalan: Melalui jalanan beraspal halus akan menekan laju konsumsi bbm dengan baik dibandingkan melalui jalanan beton/berbatu. Sayangnya ini lebih mudah mempengaruhi jenis mesini cvt matic dibandingkan non cvt matic. Salah satu unsur mengapa itu bisa terjadi juga dari ukuran peleg dan ban itu sendiri, ukuran peleg matic 14″ memang jauh lebih cepat berputar mencium jalanan dibandingkan ukuran peleg yang lebih besar. Pada dasarnya matic dirancang untuk dikendarai di kondisi media jalanan yang baik dan rata demi ukuran performa, kenyamanan dan tingkat konsumsi bbm yang baik. Berbeda dengan mesin non matic yang bisa menghajar lebih banyak jenis media jalanan yang ada namun tidak terlalu signifikan mempengaruhi tingkat konsumsi bbm-nya itu sendiri.

Untuk saya pribadi jika berbicara motor, harus mikir juga itu motor digunakan untuk keperluan yang seperti apa dulu? Apakah digunakan lebih banyak di dalam kota? Apakah untuk keluar kota? Seperti apa sih kondisi jalanan dalam dan luar kota yang biasa dilalui? Apakah akan digunakan sendiri tanpa barang tambahan atau berdua atau berdua dengan tambahan barang? Butuh yang nyaman atau butuh kontrol penuh tenaga? Memang beli motor untuk saya pribadi termasuk hal yang kritis.

Jadi sejujurnya untuk saya pribadi, saya bukan termasuk konsumen pengguna kendaraan mesin roda dua (motor) yang mencari keakuratan konsumsi bbm. Saya lebih ke persoalan fungsional dan kenyamanan. Karena saya juga 100% tidak percaya dengan hasil uji tingkat keiritan konsumsi bbm motor pabrikan, toh itu juga umumnya di tes dengan kondisi yang sudah ditetapkan pabrikan kan?

Coba deh 1 liter bbm pertamax di motor baru digunakan di jalanan sebenarnya di indonesia, naik turun bukit, saya yakin itu 1 liter pertamax tidak akan pernah tembus 40km di motor injeksi manapun. Maka dari itu saya ini termasuk bukan peminat bahan ‘ajaran’ artikel yang memuat tentang tes drive motor baru dan merilis hasil tingkat konsumsi bbm-nya, sekali lagi…coba kalau saya sendiri yang mengetesnya tanpa syarat ini itu dari pihak penyelenggara tes drive!?

Yang lebih konyol adalah pabrikan yang masih menggunakan ‘daya tarik’ tes konsumsi bbm di beberapa pameran otomotif dengan menyalakan mesin motor di kondisi statis tanpa digerakkan oleh pengendara sebenarnya dan sudah diseting di kecepatan sekian, dan diisi bbm tiap sekian kilometer untuk membuktikan daya tahan piston mesinnya saja. Buat saya hari gini masih tes keiritan bbm spt itu adalah cara yang konyol, tidak mendidik, karena sekali lagi…itu adalah tes menggerakkan mesin motor di kondisi statis. Coba sini saya yang pakai 1 liter pertamax di motor baru pabrikan, saya jamin gak akan ada 40km seliternya walo sudah anda minta untuk dikendarai dengan cara eco drive.

Buat saya pribadi, tidak ada satupun motor pabrikan manapun yang benar-benar bisa membuat keiritan konsumsi bbm dengan penggunaan nyata pengendara di jalanan sebenarnya 1:50km. Kalau bisa 1:40 pun itu sudah hebat kalau bener bisa dilakukan di kondisi jalanan sebenarnya dan bukan sudah dikonsepkan diseting untuk dikendarai ala irit irit gtu. Dan alangkah bijaknya jika itu bisa dibuktikan pada mesin yang sudah beroperasi minimal 1 tahun dan bukan pada mesin baru keluar dari pabrikan.

Satu-satunya yang bisa dilakukan pabrikan motor adalah membuat motor untuk nyaman dikendarai, aman dan tidak terlalu boros. Buat saya tidak terlalu boros tidaklah sama dengan irit bbm.

Tapi membuat mesin motor dengan tingkat konsumsi boros yang minimal itu memang lebih baik daripada tidak sama sekali. Harapannya adalah jarak jangkau masuk spbu bisa lebih jauh lagi, apalagi di indonesia masih banyak daerah yang dilalui motor pun masih belum menyediakan bbm di sepanjang jalanan tersebut. Tapi membanggakan diri dengan menawarkan konsumen dengan tingkat keiritan bbm abal-abal yang sudah diseting tes ala pabrikan, buat saya itu adalah pembohongan terstruktur dan masif (gilee bahasanya cui). Kalau begitu kan sama saja pabrikan berharap sangat agar konsumen menurut dengan tata cara penggunaan motor ala tes pabrikan? Lah kita konsumen ini manusia deh bukan barang tes pabrikan!

Yang jadi pertanyaannya kemudian adalah: Apa alasan anda membeli sepeda motor matic atau non matic?

Jika masih terlalu menghandalkan performa keiritan bbm, saya rasa hal itu sudah tidak logis sama sekali di jaman ini. Ibaratnya, anda beli motor berharap irit dengan premium tapi tidak bisa sama hasilnya dengan hasil tes irit bbm pabrikan, ya kalau begitu isilah bensin full tank di motor anda, masukkan ke garasi rumah, buang kuncinya dan berharaplah motor anda tetap irit sampai tahun baru mendatang.

Motor modern jaman ini sudah lebih dihadirkan dengan konsep yang mengutamakan kenyamanan berkendara karena kita tahu motor bukan lagi jenis kendaraan personal untuk kegunaan jarak pendek saja, tapi sudah umum digunakan untuk penggunaan personal dan komersil untuk jarak menengah dan jarak jauh. Mempertimbangkan membeli motor dari segi kenyamanan dan fungsional berkendara saya rasa jauh lebih bijak dibandingkan masih terus mempertahankan konsep irit bbm.

Sekali lagi, rasa nyaman dan tingkat konsumsi bbm spt apa yang anda harapkan dari pabrikan yang masih menggelar tes drive motor di jalanan mendatar di halaman parkiran atau sirkuit kecil? Coba sini saya tes naik turun bukit keluar kota 1 liter pertamax saja bisa berapa jauh motor baru pabrikan itu?

Saya rasa perlu ada edukasi tentang makna tingkat boros bbm dengan tingkat irit bbm agar tidak menjadi kerancuan ‘umum’ berkelanjutan di masyarakat indonesia. Tentunya semua edukasi itu disesuaikan dengan kondisi real indonesia dan bukan dengan kondisi real kondisional dari pabrikan!

Real test real driver real roads real testimony! I’m not making any affiliation with any motorcycle parts and motorcycle factory!

Berani jujur terang benderang itu hebat!

Salam.

Iklan

51 thoughts on “Tidak Ada Motor Yang Irit BBM!

  1. 30 km / liter termasuk boros banget loh.
    Vespa bulet 1964 ane tahun 2000-an ke bandung masih bisa Full Tank sisa 1,5 liter lebih (Full tank vespa 7,1 liter), berarti jarak jakarta bandung 180 km / 5,5 liter = 33 km / liter. Busi NGK khusus vespa, knalpot PX, blok dan seher standar, koil Danmotor, magnet bajaj (magnet lebih kuat maka lampu lebih terang dan pengapian lebih bagus dan motor lebih kencang).
    ane gores dalam tangki sebagai penanda liter pake ukuran gelas 1 liter. jadi SPBU yg nakal bisa ane tahu dan ane ga mau isi bensin disitu lagi. sebelum ane isi bensin, ane kasi tahu petugasnya tentang goresan penanda ukuran dan ane bilang punya sepupu orang pertamina (memang benar sepupu ane kepala unit di Balongan Pertamina). biasanya literannya jadi bagus, hahahhahah, takut kali diperiksa.tuh SPBU.
    .
    lalu 2009 ane bawa motor Supra X125 buatan 2007, jakarta ke Palembang nonstop dng kecepatan bervariasi antara 40-90 km /jam tapi lebih konstan di 60 / 70 km/jam. ane hitung teliti dng ukuran peta dan jarak tempuh spedometer serta berapa kali isi bensin jumlah liter, hasilnya konsumsi Supra X 125 karburator ane bisa diatas 60 km/liter.
    ingat medan jakarta palembang juga ada kontur berbukit didaerah lampung, perbatasan lampung sumsel.
    .
    ada lagi motor yg sama Supra X125 karburator 2007 (rem belakang masih tromol), ane tes bawa ke bandung non stop lewat puncak cianjur padalarang dari Full tank 3,7 liter, sampai dago juanda bandung, lampu indicator bensinnya belum kedip-kedip masih dua strip ( ini menandakan belum memakai bensin cadangan sekitar 1,1 liter dng tanda kedip-kedip lampu). jadi ane kira hanya habis 2,5 liter bensin jakarta bandung 165 km => 66 km / liter.
    ingat, lewat puncak berupa tanjakan+tikungan+macet 30 km, turunan 30 km, lewat padalarang tanjakan tikungan macet juga.
    .
    Spacy injection 2016 ane, ane kira masih bisa diatas 40 km/liter di perkotaan jakarta yg macet panas dan jalanan variasi lubang, tanjakan jembatan, dll.
    dalam kondisi ane bawa penumpang, berat ane sendiri 90 kg.
    Ban belakang ane FDR Exo Sport 110/80-14, ban depan standar Spacy Federal 80/90-14.
    busi ane pakai sekarang NGK Platinum seharga 26 ribu, tarikan jauh lebih baik dan smooth dibanding pakai busi standar. yg aneh saat pake busi standar, tarikan awal ada gredek-gredek kayak di belt nya kurang kencang, setelah pakai busi platinum, gredek-gredeknya lumayan banyak menghilang. kenapa yah, ane juga bingung. apa pembakaram semakin bagus maka tarikan semakin enak dan gredek awal menghilang ?
    bagi ane busi platinum lebih fungsional dari segi kemampuan berbanding harga ekonomis.
    malah dibeberapa forum, memakai busi iridium lebih cocok buat yg suka membetot gas cepat.
    kalo anr kan biasa ngurut gas tapi tetap cepat, makanya ane pakai NGK platinum G-Power aja.
    lagian mesin Spacy kalo udah oanas banget suka mati mendadak, kita diemin 15 menit baru mau nyala lagi. dan ini banyak terjadi di motor injection baik honda maupun yamaha bahkan vixion juga begitu (ada di sebuah forum yg bilang begitu).
    rem belakang spacy ane kurang pakem / loss. ane udah bosen ke ahass buat komplain tapi tetep loss rem belakang sehinga kanvas depan ane cepat abis dan pernah satu ketika mau nabrak karena rem depan blong juga kepanasan.
    akhirnya lumayan masih bisa agak ngerem setelah ane kasi sabun colek ke kanvas rem belakang saat bongkar (trik rem vespa jaman dulu), agak pakem dikit seh tapi ane belum puas.
    lalu ane ganti kanvas rem belakang ori, ane ganti tuas rem bawah belakang dng tuas / paha rem milik Vario 125 cbs yg lebih panjang dibanding tuas asli spacy, lumayan ampuh buat empuk dan pakem rem belakang.
    jok standar spacy bikin pinggang sakit setelah jarak diatas 50 km. ane tumpuk dng busa vario lalu ganti kulit jok MBtech, ampuh empuknya, jarak 100 km lebih jakarta sukabumi / puncak ane babat nonstop tanpa keluhan pinggang sakit lagi. biar jok jadi tinggi dan besar tapi masih sesuai dilihat sebanding dng bodi spacy yg montox. hehehhe
    sekarang tinggal fokus ganti ban yg mulai botak dan ganti shock vario biar lebih empuk dan tinggi, jadi bisa ganti ban ukuran standar lagi.
    untuk semua keterangan ane diatas, silahkan mau menyetujui atau tidak ya disesuaikan dng situasi dan cara berkendara masing-masing, ane mah kalo nge gas ya ngurut tapi tetap kencang (naik vespa tahun 2001 jakarta sukabumi tengah malam ane sikat 2 jam sampai berboncengan, alun-alun cimahi sampai Polres Bogor Kedunghalang, ane sikat nonstop sore hari lewat puncak hanya 2,5 jam ane ukur pake stopwatch dan rekor 2,5 jam ini belum pecah oleh ane meski ane pakai Supra X 125 tengah malam pada 7 tahun kemudian.).

    Suka

    1. Terima kasih sudah mampir dan sharing mas.

      Perihal tingkat keiritan bbm motor memang kita tidak bisa pake patokan pabrikan, kondisi jalanan yang dilalui pengendara juga berbeda, dan medan di indonesia juga berat-berat, klo dari sisi saya, saya lebih sering mendapati faktor eksternal menjadi hal yang membuat konsumsi bbm berbeda, bahkan setelan rantai kendur saja jd faktor vital. Kalau dari sisi saya, saya sudah membuktikan sendiri dng jupiter z1 injeksi 2014 beli baru, setahun pakai masih sulit tembus diatas 40km/liter, walau sudah injeksi dan dari pengakuan pabrikan bisa lbh irit 30% tp kalau dari saya itu susah saya dapatkan bisa tembus diatas 40km/liter dng cara berkendara saya padahal itu motor baru dan konsumsinya dari premium dan pertamax baik dng kondisi mesin oli n busi standard pabrikan dan sudah saya ganti juga tetap sulit mencapai diatas 40km/liter, sudah diservis resmi pun sama hasilnya.

      Sekarang saya sedang on testing motor dari merk honda, mungkin 1bln lagi akan keluar hasilnya dari road test pengalaman pribadi saya.

      Suka

      1. Terima kasih shared info nya mas Ferry.. dan teman2 dengan komen2 nya. pastinya bermanfaat buat saya agar tidak perlu trial error, uang terbuang percuma. Terima kasih

        Suka

  2. Mas Ferry, tipe busi iridium yg paling pas buat spacy yang mana ya? Kalo ganti roller dan per cvt di ahass standarnya dikasih yg ukuran berapa? Terima kasih sebelumnya. Oya spacy saya test pertama 1:30. Pulomas – slipi pp. Jd ngiri kalo baca ada yg sampai 1:36. Terima kasih sebelumnya. Salam…

    Suka

    1. 1. Klo busy iridium utk matic dan anda pakainya dkota yg padat n panas saya sarankan ambil yg nilai angkanya rendah krn makin rendah itu busi lebih dingin. Klo anda dkota suhu sejuk pakainya busi yg nilai angkanya tinggi krn mrpkn busi panas. Kualitas busi iridium klo utk saya pribadi bukan dr merknya tp dr brp diameter ujung businya, terakhir sih pakai yg 0.5mm. Saya 2minggu lalu bru aja beli denso iridium yg 0.4mm tp utk honda revo injeksi. Makin kecil diameter ujung busi makin bagus dan setau saya sih baru merk denso yg ukurannya paling kecil 0.4mm. Silahkan cari busi sesuai kebutuhan spacy anda saya netral aja šŸ˜Š.

      2. Roller spacy dulu saya ganti merk tdr duh lupa saya ukuran brp tp coba anda baca artikel spacy di blog saya itu ada infonya. Krn saya ngejar tarikan bawah jd saya pakai roller dng ukuran lbh kecil.

      3. Utk per cvt saya ganti jg tp bukan bawaan pabrikan tp aftermarket juga udah ada artikelnya di blog saya cari aja dng kata kunci: Spacy. Klo per cvt bawaan pabrikan 1000rpm pa ya? Lupa saya mas šŸ˜„.

      Sbnrnya soal keiritan bbm itu relatif ya selain dr motornya itu sendiri, faktor eksternal spt cara berkendara, kepadatan jalan, cuaca sampe pola tarik ulur gas jg mempengaruhi bbm.

      Salam.

      Suka

  3. hehe menarik nih informasinya.
    karena semenjak ane aware masalah xxKM/L
    ane mulai ngitungin motor bebek yg nganter ane tiap hari ngantor.
    Revo Abosulte STD 2013 Karbu. Busi baru ganti bulan lalu, oli dari be-res.
    3 bulan ini udah rajin minum v-power shell.
    dengan metode full-to-full. dan kecepatan rata2 40-50km/jam
    dapet 45-47km/L.

    Suka

    1. Revo karbu 2009 yg saya pakai (milik adik ipar) diisi pertalite 1/2 tangki isi 15rb sudah full, dgunakan tanpa batas kecepatan, bisa sampe 80-90kpj dalam dan luar kota dpake sendirian total bobot diatas motor 110kg jarak PP 65km baru habis 1 bar garis fuel meter. Ini blm dservis pdhl.

      Saya rajin mulai mencatat soal km n biaya bensin ini habis brp per brp km sejak semingguan terakhir ini pakai aplikasi yg di download di playstore, rencana akan saya tulis dblog saya ini utk membantu para riders membuat catatan pengeluaran bbm dan info km perjalanan mrk.

      Susah memang ini soal data keiritan gak bisa sama rata krn kondisional pemakai, gaya berkendara, faktor eksternal dan mungkin faktor luck jg berpengaruh ya gan šŸ™‚

      Salam.

      Suka

  4. Halo bro ferry, ketemu lagi, hehe….

    kl sy pk soul gt yg pertama, bukan yg 125 yo. tak kasi denso iridium, koil kawahara yg kelir e merah, roller lbh ringan, pertamax 92. sdh enak. Oli pk Kendall. hehee…..

    Jupiter Z1 juga saya kasi seperti di atas, tapi gak pk roller lho ya. Oli castrol power1, (gara2 mas ferry nih) enak, tinggal gas lsg joss..

    Filter udara standar semua. yg mau nyoba silahkan, sekedar info aja, bukan ajakan wajib, kl ada yg mesinnya ambrol jgn komplain ke sy ya. hehe…thx.

    Suka

    1. Tambah main di jalur pengapian lg bisa joss tuh engine standardnya. Jupi Z1 atur kekencangan rantainya bro…mudah kendor utk penikmat gaspol šŸ˜€

      Salam.

      Suka

  5. Saya cuman ganti knalpot fu konsumsi bbm 1liter mencapai 60km. Pengukuran Pakai metode full to full gan. Itu agan kok cmn dapat 30km boros amat. Id line : xxxx

    Suka

    1. Motor qta berbeda, style riding qta berbeda juga, jalanan yg dituju dan dilalui jg beda, beban total diatas motor juga beda, bbm juga beda. dan saya tdk ganti knalpot šŸ™‚

      mungkin klo agan pakai motor spek kondisi yg sama spt saya, berat total spt saya dsb hasilnya jg akan per 30/liter premium šŸ™‚

      Suka

  6. Artikel menarik mas Ferry

    Saya setuju dengan salah satu penyebab konsumsi bbm makin boros yaitu ” Settingan Rantai Kendor “. selain faktor rantai menurut saya ada satu lagi yaitu
    ” ukuran tekanan angin pada Ban ”

    Saya menggunakan motor untuk kegiatan sehari – hari. dalam sehari setidaknya jarak yang saya tempuh 60km ( kalimalang – cengkareng ) ditambah situasi jalanan yang macet. jadi ane merasa aware banget tentang konsumsi bahan bakar.

    motor ane Honda Blade 110cc. untuk konsumsi bahan bakarnya jika di itung – itung bisa mencapai 50km / liter, itu klo di kecepatan konstan, tidak banyak rem – rem mendadak , ukuran dan settingan rantai PAS . tapi saat dignakan kecepatan tidak konstan dan selip sana selip sini ( maklum nguber jam kantor, takut telat ) 45km/liter aja ga sampe mas.

    jadi faktor berkendara juga sangat mempengaruhi yah. cheers

    oia spek motor ane :
    HONDA BLADE 110CC
    Bensin : Pertalite
    Aksesoris, Jeroan : Standart
    Ban : Ukuran Standar , Depan Tubeless ( Nitrogen ) , Belakang yang suka kurang angin dan klo bocor dalemannya dibakar.

    Suka

    1. Sbnrnya selain komponen mesin faktor eksternal mulai dr bentuk n kontur jalanan yg diakses hingga faktor cuaca n berat total diatas motor termasuk ritme bukaan gas motor jg berpengaruj.

      Salam.

      Suka

  7. minimal bbm ron 92,busi iridium,mininal platinum dan oli non pabrikan,sae 10w-40 api SL jaso ma2,bukan jaso ma,udah bsa ningkatkan performa motor,bener gtu mas ferry

    Suka

    1. Klo mas evan komen k arah performa motor maksud saya begini mas:
      1. Kebutuhan performa mesin motor berbeda dtiap org jd saya tdk bsa beri patokan pasti krn rasa nyaman n performa utk manusia thdp mesin akan selalu kurang dan merasa kurang puas.

      Kondisional kebutuhan manusia akan performa vs kenyamanan vs fungsionalitas vs konsumsi bbm akan selalu jd bahan pertimbangan yg tdk ada habisnya.

      Pd akhirnya juga misal qta bcarakan performa ada tolok ukur kondisi fisik pengendaranya, style berkendaranya hingga lingkungan jalanan yg dilalui motornya.

      Salam.

      Suka

      1. mksud sya bgn,klo melihat artikel mas ferry,yg sya amati cukup pke pertamax,busi iridium n oli 10w-40 api SL jaso ma2 bsa meningkatkan performa motor,baik dr segi akselerasi maupun sped,mskpun g secara drastis,

        Suka

        1. Ya bisa tp dng catatan min.kompresi mesin 9. Dibwh 9 hasil tarikannya tdk akan terasa banget.

          Dan soal spek oli tdk hrs jaso ma2 klo saya lbh melihat k formula olinya walo sdh misal jaso ma2 tp itu jg tdk jaminan olinya memiliki performa bagus.

          Thx.

          Suka

          1. ok,trims mas ferry masukannya,kapan2 ane nyoba pake busi platinum,klo pake iridium,harganya itu lho..,hehe,di samping itu motor ane jg masih standar

            Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s