BPJS.. the MISSION binti IMPOSSIBLE TO BE REAL!

Banyak sekali hal tentang BPJS Kesehatan (BPJS-K) yang bisa dibahas. Dan tentu saya masih akan tetap membahas tentang BPJS-K di kesempatan kali ini dan di kesempatan berikutnya.

Tentu apa yang akan saya tulis ini juga bukan asal tulis. Saat saya mengurus BPJS-K di kantor bpjs di kota saya, seorang pegawai bpjs laki (bapak) yang sempat saya hadapi di pertemuan ke-5 di tempat, sempat saya ajak bicara soal cakupan penggunaan kartu bpjs-k ini.

Untuk setiap peserta BPJS-K, baik dia yang mendaftar langsung di kantor bpjs-k atau via online di website bpjs-kesehatan, ia yang telah sah melakukan pembayaran iuran pertamanya akan mendapatkan kartu kepesertaan BPJS-K. Tidak serta merta dikatakan dalam bentuk kartu fisik sih, tapi banyak diberikan dalam bentuk e-ID BPJS-K yang dicetak dalam selembar kertas hvs. Itupun dicetak dalam format tinta hitam di kantor BPJS-K dan bukan dalam cetakan tinta berwarna walaupun tinta hitam/warna itu tetap sah digunakan selama e-ID tersebut sudah diberikan cap/stempel dari BPJS-K.

Saya sempat bertanya “Pak, misal saya pindah lokasi, kan saya daftarnya di kota saya ini, apa saya harus ubah data dokter yang saya pilih sebelumnya?”

Staff pegawai BPJS-K bapak ini menjawab “Iya mas, harus ganti data/mutasi, datang dulu ke kantor BPJS-K ini sebelum menggunakan kartu BPJS-K di tempat laen.”

Saya membalas “Loh, klo gtu ini bukan kartu sakti ya pak? Saya pikir peserta itu bebas menggunakan di seluruh penjuru indonesia, dan jika digunakan di lokasi dia mendaftar dia dpt dokternya yang sudah sesuai dng yg dia pilih saat daftar.”

Bapak ini menjawab “Tidak bisa mas, kartu BPJS-K hanya bisa digunakan di tempat peserta mendaftar saja.”

Saya balas jwb lagi “Lah saya ini orangnya muter terus pak, tidak mesti di satu tempat, misal saya di luar kota, saya pake motor, kecelakaan, brarti ini kartu BPJS-K gak bisa digunakan di rmh sakit/fasilitas kesehatan yang bekerja sama dng BPJS-K di tempat saya kecelakaan itu donk pak?”

Bapak menjawab “Bisa saja mas, asal kondisinya darurat itu bisa digunakan di tempat yang bekerjasama dng BPJS-K. Tapi hanya untuk kondisi darurat saja mas, kalo disengaja nanti kena hukuman.”

Sayangnya si pegawai bapak ini tidak menjelaskan maksud hukumannya apa ke peserta yang dengan sengaja menggunakan kartu BPJS-K di luar dari tempat ia mendaftarkan diri.

Bapak ini mengatakan sendiri beliau orang dari kota Magelang ditugaskan di kantor BPJS-K di kota saya.

Jadi di artikel ini saya tekankan lagi:

1. Kartu BPJS-K bukanlah kartu sakti all in one place: Tidak dapat digunakan bebas diluar wilayah dia didaftarkan.

2. Setiap peserta yang akan menggunakan di luar tempat ia mendaftarkan BPJS-K wajib melakukan mutasi data di kantor BPJS-K tempat ia mendaftarkan dirinya. Tidak dijelaskan oleh si bapak ini apakah peserta boleh melakukan mutasi data di kantor BPJS-K tempat peserta yang baru.

3. Kartu BPJS-K dapat digunakan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama dng BPJS-K di luar wilayah peserta mendaftarkan dirinya selama itu digunakan dalam kondisi darurat saja.

Satu hal yang saya belum tanyakan ke bapak itu adalah; Jika dokter yang saya pilih kelak meninggal dunia, berarti semua peserta BPJS-K yang menggunakan pilihan dokter tersebut juga wajib datang ke kantor BPJS-K setempat untuk ubah data dokter baru juga? Sekedar info saja ya, dokter yang saya pilih di opsi daftar BPJS-K sudah me’miliki” lebih dari 5000ribu peserta BPJS-K yang memilihnya. Jadi jika dokter tsb kelak meninggal dunia, jika katakanlah dalam 1 hari operasional kantor BPJS-K mendapatkan (kedatangan) paling tidak 100 peserta yang telah memilih dokter tsb untuk minta ganti dokter baru, kira-kira staff kantor BPJS-K sanggup gak urus 100 peserta tsb dalam sehari bertugas?

Wong saya sendiri aja pernah menghitung 1 peserta daftar di kantor BPJS-K saja selesai dilayani dalam 15-20mnt kalau semua berkas lancar dan gak banyak obrolan! Gimana kalau kantor BPJS-K digeruduk peserta hanya sekedar untuk mutasi data? Dan di kantor BPJS-K di kota saya hanya ada 3 staff saja di meja pelayanan dan 5x kunjungan saya hanya ada 2 staff saja yang melayani peserta BPJS-K. Jadi jika ada ratusan orang mo mutasi data, gimana mereka menghandle-nya!?

Sayangnya, website BPJS-K tidak membuat sebuah sistem kepesertaan yang termanage dengan baik. Web BPJS-K hanya untuk informasi publik dan pendaftaran faskes dan kepesertaan BPJS-K saja, jadi hanya one way registration doank, kagak ada dah menu login peserta, kagak ada fasilitas ubah data dsb, jadi intinya adalah soal IT website BPJS-K masih amat sangat jauh dari efisiensi sistem! Konsep tim sistem BPJS-K tidak benar-benar melek soal efisiensi sistem dan tidak 100% soal paperless sistem juga.

Dan yang paling membuat saya kesal adalah, daftar online itu tidak jauh lebih cepat selesai daripada datang ke kantor BPJS-K untuk daftar langsung di tempat! Ini saya sudah membuktikan sendiri!

Saya hanya bisa mengatakan sungguh memalukan di jaman IT sekarang ini BPJS-K belum memiliki kesadaran penuh tentang pentingnya sistem berbasis full IT. Padahal rakyat indonesia sudah diarahkan agar melek internet, beli smartphone mahal udah makin biasa di masyarakat, tapi sistem pelayanan pemerintah berbasis IT masih acak kadut amburadul. Memalukan sekali!

Saran saya untuk BPJS-K sebelum terlalu arogan menerapkan hukuman kewajiban warga negara untuk wajib terdaftar sebagai peserta BPJS-K di tahun 2019:

1. Sebelum benar-benar jualan, pastikan sudah mempersiapkan lahan dan sarana prasarana dengan baik dan jelas. We talk about system here!

2. Jangan memaksakan kehendak warga untuk bergabung dengan BPJS-K jika BPJS-K sendiri belum 100% benar-benar mengerjakan dan melaksanakan sistem ke internal dengan baik. Dan harus bisa diterima untuk diaudit systemnya juga!

3. Tidak perlu menerapkan hukuman bunga untuk keterlambatan pembayaran. Kan gak lucu, kartunya saja berlaku lokal tapi minta bayar iuran jangan terlambat. Kalau kartunya dapat digunakan bebas di setiap faskes BPJS-K di seluruh indonesia tanpa embel” hukuman saya rasa itu lebih bermanfaat jelas kegunaan BPJS-K dan orang juga lebih bisa memahami soal bayar iuran teratur karena ada asas manfaat yang lebih luas.

4. Jika sampe 2019 BPJS-K masih saja menggunaan sistem yang ada spt skrg ini dan tidak ada kemajuan, maka tidak ada salahnya kan BPJS-K dilaporkan karena sudah bertahun-tahun beroperasional nantinya, tapi tidak memberikan efisiensi sistem bagi peserta BPJS-K. Ini seperti jualan tapi dminta perbaikan tanggungjawab lebih banyak alasan daripada tindakan nyatanya!

5. Saya rasa BPJS-K sebaiknya dibuat adil, maksud saya begini, untuk warga negara yang sudah punya NPWP dan membayar pajak dengan nilai diantara 20 ribu – 60 ribu atau setara dengan hitungan nilai kelas BPJS-K per tahunnya, sseharusnya sudah include dengan perlindungan BPJS-K mereka tidak perlu lah membayar iuran BPJS-K karena seharusnya dari pajak itu juga menjadikan warga negara juga berhak mendapatkan layanan dan faskes yang layak.

6. Saran ke-6 adalah seharusnya BPJS-K melakukan screening calon peserta BPJS-K, untuk mereka yang termasuk dalam kategori pengguna rokok, miras, narkoba, dsb mereka dibebankan biaya BPJS-K yang lebih mahal daripada mereka yang tidak dengan sengaja melakukan tindakan yang merusak kesehatan diri dengan penggunaan produk umum dan atau produk ilegal di indonesia atau tidak termasuk yang ditanggung oleh BPJS-K. Kan gak lucu donk, masa orang yang tidak merokok membayar iuran dan digunakan untuk membantu perawatan orang yang merokok? Sedangkan perokok saja merokok tidak ijin tuh untuk merokok di area tempat dimana ada orang yang tidak merokok! Masa yg merusak kesehatan orang laen juga ikut mendapatkan perawatan dari iuran BPJS-K dengan harga iuran yang sama? Kalo mereka jelas merokok berarti secara tidak langsung mereka juga lebih ‘mapan’ dalam kemampuan keluarin duit untuk menikmati ‘hidup’ donk? Rokok itu murah tapi biaya kesehatannya yang muahal.

7. Perbanyak faskes yang bekerjasama dng BPJS-K, jangan sampe kami peserta BPJS-K mendapati bahwa kami dilayani tidak sesuai dengan kelas yang seharusnya sudah disiapkan untuk kami dengan alasan jumlah ruangan terbatas lah, obatnya gak ada lah, dan tetek bengek laennya!!

Saya rasa akan jauh lebih baek kartu BPJS-K dapat digunakan secara nasional tanpa banyak syarat ini itu. Seharusnya BPJS-K itu mempermudah warga negara mendapatkan faskes di banyak tempat dan bukan sekedar maen lokal apalagi dengan paksaan wajib terdaftar pada 2019 jika tidak akan dikenakan hukuman oleh pemerintah dari mulai tidak diberikan akte lahir dan hak kewarganegaraan laennya.

Jadi sebenarnya ini BPJS-K bukanlah program pemerintah yang wow banget karena ada unsur pemaksaan untuk terdaftar dengan bersilat lidah menggunakan kata ‘gotong royong’ bersama-sama.

Bukankah di UUD ada pasal yang menuliskan “Dilarang memaksakan kehendak kepada orang laen.” ??? Dan setau saya sampe sekarang pasal tersebut sama sekali belum berubah!

Perbaiki sistemnya, perbaiki layanan untuk mendapatkan akses kesehatan yang lebih luas cakupannya, dan tidak perlu-lah sampe mengancam warga negara indonesia segala dengan wajib mendaftarkan diri di BPJS-K. Tidak bijak mengatakan ini disebut gotong royong tapi caranya dengan memaksakan kehendak warganya dengan pake ancam menghilangkan hak warga negara bila tidak mendaftarkan diri. Saya yakin bila pemerintah tidak terlalu banyak hutang, dan bisa mengambil alih harta koruptor yang selama inii maling duit rakyat dan itu anggota dewan tidak minta gaji tinggi dan mengatur populasi kelahiran di negeri ini, saya yakin dan amat yakin akan semakin lancar pemerintah membayari 100% biaya kesehatan warga negara miskin di negeri ini tanpa embel-embel wajib daftar BPJS-K.

Kalo mau menolong rakyat, jangan memaksakan kehendak, itu namanya tidak bijak, dan memalukan. Rakyat miskin itu tidak mesti yang 100% terlihat miskin dan tidak punya rumah, orang yang punya rumah / smartphone saja bisa lebih miskin daripada gelandangan.

Udah bayar pajak, masih juga kena iuran BPJS-K. Besok apa lagi ya program cantik pemerintah indonesia?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s