Jalur Perlintasan Kereta Api, Bukan Untuk Uji Nyali!

Kereta api, oh kereta api. Dari jaman saya tk pun sudah diajari menyanyikan lagu Naek Kereta Api. Saya termasuk orang yang sudah sering melihat jalur kereta api dan keretanya, apalagi saat perjalanan jauh menuju jawa timur jaman dulu berkendara dengan mobil sekeluarga dengan mudah menemukan kereta api di hampir setiap kota yang kami lalui.

Itu adalah peristiwa yang sudah lama namun masih saya ingat betul di tahun 1992 hingga 1998. Jaman itu saya belum pernah melihat satupun pengendara kendaraan bermotor baik itu roda dua ataupun lebih, yang menyerobot antrian di jalur gerbang (palang) pintu kereta api. Semua antri rapi, berbaris dan memberikan kesempatan petugas penjaga palang pintu bekerja dengan sebagaimana mestinya tanpa perlu membuat petugas tersebut sport jantung.

Kereta api adalah transportasi darat yang terbilang besar dan panjang ukurannya dan memang memiliki keistimewaan khusus dalam penggunaan jalur transportasi. Saya masih ingat pelajaran fisika dari guru smu saya, tentang penipuan obyek yang dilihat mata. Kurang lebih tentang jarak jauh dan dekat dalam menentukan ukuran obyek. Memang sih kereta api itu saat kita lihat dekat ukurannya besar, terbilang kuat terlihat dari fisiknya. Namun ketika dilihat dari jauh, mata kita seringkali meremehkan bentuk kereta api, karena dari jauh hanya terlihat ujung depannya saja, sehingga kita menganggap kereta api itu kecil dan biasa saja (sepintas otak merespon spt itu).

Pemikiran singkat itu sering menghinggapi orang-orang yang bak dewa berani menerobos perlintasan kereta api tanpa palang pintu, dan akhirnya…kecelakaan pun terjadi. Kecelakaan yang terjadi umumnya karena dua hal, bila tidak terlambat melewati perlintasannya dan dilibas kereta api, yang kedua adalah kendaraan mendadak mati (mogok) pas di perlintasan. Nah yang kedua menurut saya termasuk kejadian yang benar-benar aneh mendapati kendaraan modern mogok pas di tengah perlintasan rel kereta api entah bagaimana selalu membuat saya terheran-heran!

Saya ingat di sekitar tahun 2008-2009 saat ayah saya mengerjakan project jalur kereta api ganda purworejo-kulonprogo. Siang itu saya menjenguk ayah saya di purworejo, saat itu saya masih menggunakan motor yamaha vega. Singkat kata saya mengikuti ayah saya ke kostnya melalui jalur tikus melewati sawah-sawah pedesaan. Dan di satu jalan saya temukan terdapat satu jalan beraspal yang dipotong oleh perlintasan kereta api, dan sayangnya tidak ada palang pintu sama sekali dan tidak ada penjaga sukarela juga. Selesai dari kost ayah saya, saya pulang sendiri, melewati jalur yang sama, ketika hampir sampai di perlintasan kereta api tanpa palang pintu itu (kurang lebih jarak saya hanya 5m) saya memutuskan untuk menarik gas untuk melewati perlintasan tersebut dengan sebelumnya melihat ke arah kanan dan melihat kereta api (sepertinya) masih berhenti di stasiun yang berjarak kurang lebih 300m saja dan menurut mata saya terbilang masih jauh dan seperti terlihat berhenti karena saya juga tidak merasakan getaran.

Ketika saya sudah mulai menarik gas, dua orang bapak-bapak tua yang berada di rerumputan di samping kanan motor saya agak kebelakang (saya awalnya tidak melihatnya) langsung berteriak “Mas, ono kereto lewat!”, beruntungnya saya walau pakai helm masih bisa mendengaran teriakan tersebut dan motor saya berhenti di jarak 2m sebelum rel perlintasan tersebut dan sebuah kereta api kelas ekonomi pun secepat kilat melintas di depan mata saya.

Jujur saya kaget sekali, sebuah benda terbilang berukuran sangat besar melintas sangat cepat di depan mata saya. Daya dorong udara diantara jarak 2m tersebut sempat mampu membuat saya dan motor saya miring hampir terjatuh. Peristiwa itu terjadi kurang dari 1 menit saja dan kereta api itu pun akhirnya berlalu secepat kilat, semua dalam hitungan 1 menit saja namun saya merasakan goncangan udara dalam jarak 2m itu sungguh mampu membuat bulu kuduk saya berdiri. Itu adalah peristiwa pertama, dan saya harapkan hanya sekali seumur hidup saja terjadi. Saya gemetaran mendapati kerasnya goncangan udara di jarak 2m dng kereta api itu, tidak bisa berkata apa-apa lagi dan beruntung sekali nasib baik masih menyertai saya saat itu.

Saya menengok ke kanan belakang, melihat dua bapak itu dan mengucapkan terima kasih. Dan jujur saja, saya benar-benar tidak melihat dua bapak itu sebelumnya walau jalur pulang dari kost ayah saya memang jalur yang terbuka luas untuk pandangan mata saya tapi kok gak terlihat awalnya kedua bapak itu sebelumnya.

Saya masih ingat TKP-nya karena letaknya di jalur yang tidak jauh dari stasiun KA disitu. Dari peristiwa itu saya ambil hikmahnya, jika ada perlintasan KA tanpa palang pintu, selalu pastikan tidak ada kereta api di kedua sisi yang dapat dilihat mata anda. Jika mata anda masih dapat melihat ujung kereta api, maka tahanlah untuk melintasi perlintasan KA tersebut, bersabarlah untuk membiarkan KA melewati perlintasan tersebut. Ujungnya sih kecil, tapi akselerasi kecepatan kereta api yang berukuran besar itu sangat amat tidak dapat diremehkan!

Sampai saat ini saya masih melewati perlintasan rel KA saat saya mengunjungi beberapa kota di pulau jawa. Perlintasan yang paling sering dilalui di tahun 2014-2015 adalah perlintasan KA di area cilacap dan ngawi (sub terminal KA geneng), namun yang lebih berbahaya dan banyak perlintasannya ada di cilacap, selain jalanan beraspal yang tidak lebar amat, pengendaranya pun sulit tertib antri, dan beberapa perlintasan KA terletak di jalur jalan berbelok yang menanjak pula!

Beruntung seumur-umur saya menggunakan kendaraan bermotor sendiri, ketika melewati perlintasan rel KA kendaraan saya belum pernah macet/mogok di perlintasannya, hal ini lebih ke arah bagaimana pengendara main gas di gigi rendah saja (menurut pengalaman saya). Tapi pastikan gigi/kopling dan rem kendaraan anda juga masih dalam keadaan layak pakai ya!

Jadi, menurut pengalaman saya sendiri, kita harus lebih waspada di perlintasan rel KA tanpa palang pintu. Selalu gunakan gigi 1 pada kendaraan anda untuk melintasi rel KA, usahakan minim pengereman jangan-lah maen tarik ulur gas hanya untuk menghindari goncangan aspal jalan yang berlubang saat melewati perlintasan rel KA, libaslah goncangan itu agar anda bisa segera melewati perlintasannya!

Dari peristiwa pribadi itu, saya juga tidak habis pikir bagaimana ya rasanya tinggal di pinggir rel KA (dng mudah kita temukan di jakarta). Percayalah, tidak aman untuk beradu nyali dengan kereta api!

Hargai jalur kereta api, bukan untuk uji nyali!

Salam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s