Ribetnya Bikin Passport Indonesia

Kali ini akan saya tulis tentang pengalaman saya dalam membuat passport republik indonesia.

Di bulan April tahun 2013, saya pertama kali memutuskan untuk membuat passport. Sebelumnya saya sudah tau bahwa imigrasi indonesia sudah membuka jalur pembuatan passport via website mereka di http://www.imigrasi.go.id.

Saat itu saya tidak sempat ke kantor imigrasi kota saya, mungkin sudah hampir 6 bulanan lebih dari kunjungan pertama saya ke kantor imigrasi setempat. Dulu awal pertama kali datang, saya langsung disambut seorang calo laki berpenampilan bak eksekutif lokal. Saya ditawari pembuatan passportt cepat, harga 600rb, saya jelas menolak, dan calo itu menjauh dari saya. Lalu saya masuk ke dalam kantor imigrasi yang terhitung kecil, lebar untuk pengunjung kurang lebih 3 meter, panjang etalase pelayanan staff imigrasi kurang lebih 7 meter. Saya tidak menemukan satupun loket bagian yang menandakan informasi, saya temukan brosur yang berisi untuk menerima keluhan bagi calon pemilik passport dalam hal pelayanan imigrasi setempat tsb. Saya sempat bertanya dengan seorang staff perempuan (jelas sudah tua, keliatan seorang ibu ibu) tentang syarat untuk membuat passport. Pertanyaan saya sungguh singkat dan jelas “Bu, saya mau buat passport baru, syaratnya apa saja ya bu!?” Staff ini menjawab “Mau dipakai untuk apa?” Saya jawab “Liburan keluar”. Ibu ini sama sekali tidak melihat saya dalam setiap menjawab dan menjawab dng nada sinis tidak customer friendly dan dia memberitahukan dengan nada pelit syarat apa saja yang dibutuhkan.

Nah sejak itu, saya sudah ogah lagi balik ke imigrasi setempat. Saya memutuskan keluar dan bawa satu brosur keluhan yang disediakan. Dibrosur itu ada nomor handphone (ibarat sms centernya) dan malamnya saya kirim sms komplain tentang petugas ibu tersebut ke nomor sms tersebut, tapi tidak pernah ada respond feedback ke nomor hp saya. Ibarat pepesan kosong saja no hp keluhan yg disediakan!

Kembali ke bulan april 2013, di minggu pertama bulan tsb saya memutuskan membuat passport baru melalui website resmi imigrasi. Saya baca petunjuknya, daftar biaya, syarat, bahkan sampai informasi jika passport hilang/rusak dsb, pokoknya saya baca semua! Lalu saya klik bagian daftar passport baru (web redirect ke port lain).

Seingat saya di formulir tersebut ada kolom pilihan imigrasi cabang propinsi mana dan kota mana, saya pilih imigrasi cabang kota saya. Singkat kata saya isi lengkap semua sesuai data ktp saya, dan saya mendapatkan bukti daftar berupa file .pdf yang langsung bisa di download dan terkirim ke alamat email yang saya gunakan. Di bagian daftar passport baru itu juga dimuat, cetaklah file pendaftaran, lalu bawalah ke kantor imigrasi tempat tujuan anda. Ya kira-kira spt itu semuanya.

Lalu saya cetak file itu selembar dan saya fotocopy 5 lembar (untuk jaga”). Dan tepat jam 9 esok harinya, saya naik motor menuju kantor imigrasi setempat. Dan betapa kagetnya saya ketika sampai di kantor imigrasi tidak ada penghuni manusia satupun, gerbang ditutup digembok bahkan halaman pun sudah mulai ditumbuhi rumput. Saya jamin di bulan april 2013 saat saya daftar passport online, ditulis jelas alamat kantor imigrasi tujuan saya ya di alamat yang pernah saya kunjungi kantornya pertama kali, sama persis alamatnya! Lah tapi kenapa saat saya kunjungi kemudian gedung itu kosong plong!?

Saya melaju dengan motor dan menemukan orang di pinggir jalan saya bertanya tentang kantor imigrasi kota kami, orang ini menjawab bahwa kantornya sudah pindah ke jalan arah luar kota (sekitar 10km dr lokasi saya dan org ini). Wow…hebat bener pikir saya, saya daftar online sudah ikuti prosedur masih juga dikerjain dng memberikan informasi palsu yang sudah tidak akurat lagi?

Ini adalah nilai minus pertama saya soal imigrasi republik indonesia. Bahwa pindah gedung operasional ke alamat lain pun datanya tidak segera diupdate. Padahal gedung itu sudah pindah dua bulan sebelumnya. Jadi selama dua bulan itu, ngapain aja internal management imigrasi indonesia!? Gak pernah cek ricek data di imigrasi cabang laen? Gimana koordinasinya?

Singkat kata dengan kesal saya cabut menuju kantor imigrasi baru, saya sampai jam 9.30an hari itu. Saya datang pakai celana pendek, sandal karet spt crocs dan baju berkancing. Saya datang langsung menuju bagian informasi yang disambut seorang pegawai perempuan magang berpakaian smu. Saya jelaskan maksud dan tujuan saya datang, bahwa saya sudah daftar online blablabla dan berikan bukti pendaftaran yang saya cetak itu.

Si petugas magang ini minta saya menunggu, lalu saya lihat dia menghampiri petugas imigrasi laki dan mereka berdua menuju balik menghampiri saya dan petugas laki ini mengatakan “Bapak isi dulu formulir ini -sambil si petugas perempuan menyodorkan dokumen kertas- dan nanti kami proses pembuatan passportnya sesuai daftar antrian”. Saya jawab “Pak, saya ini sudah daftar online, ini buktinya (saya tunjuk dokumen resmi daftar online yang dipegang bapak itu) dan itu nomor barcode registrasinya (daftar online dapat kode barcode registrasinya). Dan disitus imigrasi ditulis bahwa saya cukup datang bawa ini dan bayar, lalu menunggu proses percetakan passport (foto dulu maksudnya). Kenapa malah saya sampai disini dminta isi dokumen pembuatan passport lagi!?”. Bapak ini tidak bisa memberi jawaban tepat “Sudah prosedurnya pak, isi saja nanti dapat nomor antrian”.

Akhirnya saya isi lagi (baru) dokumen formulir daftar passport di kantor imigrasi, plus bayar disitu. Yang membuat saya makin heran lagi adalah adanya biaya tidak disebutkan di website imigrasi muncul dalam nota pembayaran yang saya terima di kantor imigrasi yaitu salah satunya biaya IT dikenakan sebesar Rp.60.000 (kalau tidak salah ingat, antara 60/65rb). Dan total untuk passport biasa 48 halaman (yg 24 sdh tdk keluar lagi kecuali anda tki) saya keluar dana lebih dari Rp.300.000 (kalau tidak salah ingat 350rb totalnya) dari yang seharusnya sesuai informasi di website imigrasi yaitu Rp.240.000,- saja untuk passport 48 halaman!

Saya bawa uang kebetulan pas 350rb, niatnya sih sisa bayar passport untuk keperluan motor saat itu tapi malah habis total untuk passport baru.

Singkat kata saya dapat nomor registrasi baru. Dan 3 hari kemudian saya datang lagi untuk foto passport, tiba giliran saya, saya masuk untuk diwawancara dan difoto. Yang mewancarai langsung kepala imigrasi setempat. Dan saya sempat diberi masukan agar lain kali datang tidak pake celana jeans pendek dan sandal jepit spt crocs gtu.

Dalam hati saya: Hei pak, soal sandal ini karena cuma sandal ini saja yang muat di kaki saya, kalau situ bisa nemuin sandal dan sepatu yang muat di kaki saya di propinsi ini juga saya bayar 2x lipatnya! Soal celana juga karena hanya celana pendek ginian yang muat dipake saya, kagak ada stok celana panjang di kota ini yang muat ukuran saya! Jadi ini bukan soal saya gak menghormati kantor milik pemerintah, tapi memang ada beberapa orang yang kebutuhan sandangnya tidak dicukupi jumlah, ukuran dan distribusinya oleh pabrik itu sendiri! Ya elah pak… anda nih petugas negara urus administrasi bukan petugas di industri fashion pak! Pakaian tidak selalu mencerminkan kepribadian orangnya juga! Pejabat rapi juga belum tentu ‘bersih’ pak! Indah di mata tidak selalu berarti tulus menghormati institusi negara pak!

Singkat kata passport baru pun jadi. Dan anda tahu saat saya tanya ke kepala imigrasi kenapa saya malah daftar dobel gnian karena sudah daftar online tapi disini diindahkan dan diminta daftar manual plus tanya kenapa tidak sinkron data alamat imigrasi cabang ini ke website imigrasi, kepala imigrasi itu tidak bisa memberi jawaban hanya tersenyum tersipu saja.

Kalau begitu saya tanya balik deh ke imigrasi yang sekaligus kantor institusi milik pemerintah “Kira-kira mana yang lebih terhormat, saya datang pake celana jeans pendek, kaos dan sandal crocs atau sistem administrasi online imigrasi dan kantor cabang yang spt saya jelaskan diatas itu!?” Sebelum menasehati kami sebagai calon pemilik passport, lebih baik sadari dulu dan benahi kekurangan institusi dulu.

Coba kita tanyakan ke pemerintah berapa duit/budget untuk menggarap dan melakukan maintenance web imigrasi pasti tidak sedikit. Apa gunanya sudah di-online-kan tapi tidak bikin efisiensi kerja di kantor imigrasinya? Tidak mempermudah saya sama sekali untuk memproses pembuatan passport baru!

Moso tho gak isin blas?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s