Tidak Semua Pegadaian Sama

Dari kemarin bahas ekspedisi dan onderdil honda yang masih bikin stress sampai sekarang.

Saya ganti topik baru, kali ini saya akan menulis review tentang pengalaman pribadi dengan si Pegadaian yang memiliki tagline ‘Mengatasi Masalah Tanpa Masalah’..hmm jadi inget acara ILK ‘Mengatasi Masalah Tanpa Solusi’ πŸ˜€

Pegadaian, bisa dikatakan merupakan sebuah usaha (profitable) yang sangat maju pesat di Indonesia dengan sedikit persaingan di bidang ini. Di luar sana ada bidang usaha sejenis ini dengan nama usaha lainnya, konsepnya sama, tapi biasanya bunga-nya lebih besar daripada pegadaian, sehingga Pegadaian lebih sering dilirik oleh kita ketimbang kompetitor (non perbankan) lainnya.

Mengapa sih orang menggunakan jasa pegadaian? Saya sempat ngobrol dengan beberapa orang yang duduk ngantri di kantor pegadaian pusat kota tempat saya tinggal sekitar 3 bulan lalu saat saya mencoba menggadaikan laptop lenovo.

Orang yang saya ajak ngobrol semuanya ibu-ibu (entah kenapa jarang ada bapak-bapak masuk ke sini di hari reguler, hanya di musim tertentu, khususnya setelah musim panen). Ibu-ibu ini berusia sekitar diatas 32thn hingga 45thn umumnya memilih pegadaian dengan alasan:

1. Tidak ada pilihan lain selain Pegadaian! Bisa dikatakan di kota ini usaha gadai menggadai sesuatu memang yang ‘nongol’ ke permukaan dengan jelas hanyalah Pegadaian saja. Mereka mengatakan jikapun ada pilihan lain mereka bersedia mencobanya.

2. Harga taksiran barang non-emas masih masuk akal dan kadang masih bisa dinegosiasikan. Tapi harga untuk taksiran emas, ini bersifat mutlak sesuai harga pasaran yang diterapkan oleh Pegadaian pada saat (hari) itu.

3. Perhitungan komponen bunga yang dibayarkan masih termasuk ringan per tiap 15 hari hanya 1.5%, sedangkan total per bulannya (dihitung per 30 hari) bunganya adalah 2.3% dari nilai total harga taksiran yang disetujui kedua belah pihak. Dan point ketiga ini juga yang menjadi pendamping dari alasan point 1 diatas.

4. Aman! Ya, ibu-ibu ini menjawab sisi keamanan merupakan hal yang diperhitungkan juga. Mereka merasa aman menggadaikan barang di pegadaian (ini saya survey di pegadaian pusatnya loh yang gedungnya paling gede, bukan di cabangnya!), mereka yakin Pegadaian akan bertanggungjawab penuh dengan barang yang disimpannya.

Lalu saya tanya juga “Mengapa Memilih Menggadaikan Di Pegadaian Pusat dan bukan di Pegadaian Kantor Cabang?”.

Jawaban yang diberikan mereka termasuk menarik untuk saya, karena ini bukan persoalan jauh dekat lokasi antar Pegadaian dari rumah mereka, tapi soal kemampuan karyawan Pegadaian (ahli taksir) untuk menaksir barang yang mereka bawa.

1. Mereka merasa harga taksiran barang di Pegadaian pusat jauh lebih kompetitif dibandingkan taksiran barang di Pegadaian cabang. Perbedaannya bahkan bisa hingga + 30 ribuan untuk barang non-emas.

2. Aman! Ya kembali ke point 4 diatas, mereka merasa menyimpan barang di Pegadaian pusat jauh lebih aman daripada di pegadaian cabang. Hal ini karena persoalan ukuran gedung pegadaian itu sendiri dan juga dari sisi keamanan. Di pegadaian pusat setidaknya ada 1 pos satpam dan 2 satpam bertugas setiap hari 24 jam menjaga gedung, sedangkan di pegadaian cabang, jangan terlalu berharap selalu ada satpam di lokasi, entahlah mungkin mereka bertugas undercover alias hanya jaga dalam gedung malam hari?

3. Lebih Pasti Diterima! Ya, pegadaian pusat lebih ramah terhadap konsumennya dan lebih membumi memberikan empati kepada konsumennya dimana bisa dipastikan 99% barang yang kita bawa ke pegadaian pusat lebih bisa diterima dan ditaksir ketimbang di pegadaian cabang.

Setelah ngobrol-ngobrol singkat, saya pun penasaran dan mencoba menguji jawaban mereka ke pegadaian cabang. Pegadaian cabang yang saya pilih berjarak kurang lebih 7km keluar dari arah pusat kota. Saya sampai di lokasi pegadaian cabang ini sekitar jam 10.30 pagi. Cabang ini secara fisik dari luar memiliki ukuran lebar sekitar 6 meter untuk ukuran gerbang, dan sekitar 4 meter untuk ukuran ruang pelayanannya. Pada saat saya datang, saya tidak menemukan satupun satpam ataupun pos satpam, di dalam kantor saya temukan satu pelanggan pria sedang menunggu (sptnya sih pelanggan) dan seorang karyawan wanita sebagai ahli taksir (dia duduk di belakang loket 2) berusia sekitar diatas 35 tahun.

Sesampainya disana, saya mengatakan bahwa saya datang untuk menggadaikan laptop, saya jelaskan speknya yang termasuk spek menengah keatas, layar 14″ dan sudah upgrade ram plus masih garansi resmi pula, bahkan masih ada nota pembeliannya dari toko. Karyawan ini bertanya “Mereknya apa pak?”, saya jawab “Lenovo”. Nah, setelah saya menjawab merek laptop itu, karyawan ini langsung menjawab “Maaf pak, tidak terima lenovo.” Saya pun heran mengapa lenovo tidak diterima, speknya pun bukan spek ecek” loh! Karyawan ini menjawab “Ya tidak terima lenovo saja pak, sedikit peminatnya pak.” Nah disini saya makin kaget, saya jelaskan ke dia bukannya lenovo itu market leader penjualan laptop dan komputer di indonesia juga? bahkan Asus, Acer, dsb pun bertekuk lutut di hadapan Lenovo (secara world market sales) tapi karyawan ini menjawab “Pak, kita terimanya hanya asus, acer, toshiba gtu pak”. Satu hal yang anda pembaca perlu tahu, setiap jawaban dari karyawan ini, tidak pernah satu kalipun beliau menjawab dengan melihat wajah saya, beliau sptnya amat sangat sibuk menghadap ke bawah ke arah meja dan saya lihat beliau pun tidak sedang menaksir barang apapun loh!

Saya rasa sudah cukup saya mendapatkan jawaban di pegadaian cabang, saya pun memutuskan kembali ke pegadaian pusat dan sesampainya disana sebagian ibu-ibu yang masih ngantri yang saya ajak ngobrol ternyata masih ada disana. Saya pun tetap ngantri dengan urutan saya sebelumnya (untung belum dipanggil-bisa ngantri 2x hehehe).

Saat saya dipanggil, saya utarakan keperluan saya kepada petugas di belakang loket bahwa saya hendak menggadaikan laptop, sekali lagi saya jelaskan merek dan speknya, sampai tetek bengek laennya. Dan bapak ini (yang bukan staff penaksir) menjawab “Bisa lihat dulu laptopnya mas?”. Dan petugas ini pun keluar dari pintu petugas untuk menerima laptop saya dan ia bawa masuk ke dalam. Saya menunggu +/- 5 menit kemudian lalu petugas itu keluar lagi dan bertanya “Ada tas-nya mas?”, saya jawab “Ya ada pak!”. Dan saya pun diminta mengambil dulu kesemuanya itu (kebetulan saya datang hanya bawa laptop dan chargernya saja di tas backpack). Sekitar 15mnt kemudian pun saya datang lagi ke Pegadaian pusat dan menyerahkan semua. Nah, selama ditinggal itulah, laptop saya di cek oleh petugas penaksir, tapi sayangnya mereka tidak tau itu laptop dipassword sehingga tidak akan bisa masuk OS-nya sebelum dapat passwordnya, bahahaha… dan saya pun berikan passwordnya dan kami sama-sama cek bersama laptopnya. Saya buka system properties agar fair itu petugas bisa lihat spek aslinya, saya pun aktifkan turbo boost agar bisa dilihat speed maksimum procesornya dsb.

Singkat kata, laptop itu diterima oleh petugas untuk ditransaksikan. Saya menunggu lagi sekitar 2 menit dan petugas memanggil saya ke loket dan memberi jawaban laptop itu dihargai sebesar 1 juta saja. Hmm agak kaget sih saya, ternyata perhitungan taksirannya hanya segitu doank tho utk laptop dengan harga asli 4.1jt dan masih garansi pula? Saya tidak tanyakan bagaimana dia menemukan taksiran barang, tapi saya langsung nego harga taksiran dengan meminta tambah harga taksir nambah 100 ribu dan beliau dengan senyum ramah menyetujuinya, jadi total harga taksiran laptop itu menjadi 1jt 100rb.

Kembali menunggu di tempat duduk antrian agar petugas mempersiapkan surat gadainya, tidak lama, hanya sekitar 4menitan saja saya pun dipanggil lagi oleh petugas wanita (bagian loket keuangan-kasir). Dengan ramah petugas ini memberikan penjelasan dulu sistem pegadaiannya spt apa, bunga per brp hari, hitungan bunganya brp, berapa total bunga per bulannya dan batas maksimum penyelesaian masa gadainya adalah 4 bulan (dan boleh diperpanjang lagi dengan biaya tambahan). Saya pun melihat bagian nota penerimaan transaksi, disitu dihitung:

Nilai Total Gadai – Biaya Administrasi = Nilai Bersih Total Terima Gadai (untuk konsumen).

Oalah, saya baru tau ternyata ada biaya administrasinya tho? Hehehe..maklum, belum pernah ke pegadaian untuk transaksi, taunya nemenin temen jaman kuliah saja kesana. Jadi bersihnya saya dapat…

Rp.1.100.000 – Rp.15.000 = Rp.1.085.000,-. Biaya administrasi per sekali transaksi gadai barang elektronik ini adalah Rp.15.000 (gak tau dah apa itu yg barang investasi spt emas kena administrasi juga?).

Dan bunga 2.3% per bulannya (30 hari) adalah Rp.23.000 (klo saya gak salah ingat sih) dari nilai total gadainya Rp.1.100.000.

Singkat kata dibutuhkan sekitar 15-20 menit saja setelah anda dipanggil dari antrian dan barang diterima ditaksir petugas agar anda dapat menerima uang hasil transaksi, ini saya ambil patokan dari jam dinding di kantor pegadaiannya.

Sebeumnya setelah saya mendapati jawaban laptop itu diterima untuk ditaksir dan ditransaksikan, saya pun sebenarnya heran. Heran tentang perbedaan antara kualitas layanan pegadaian cabang dan pusat. Saya pun menceritakan tadi saya baru saja dari pegadaian cabang dan bla bla bla, petugas pegadaian pusat menjawab “Maaf mas, tiap pegadaian petugas penaksir memang berbeda-beda menerima barang”. Dalam hati saya mikir..wah klo gtu pegadaian ternyata tidak memiliki standarisasi untuk mematok barang non emas (non investasi) donk?

Dibalik kemudahan yang ditawarkan Pegadaian, berikut adalah penilaian pribadi saya dari pengalaman saya dengan Pegadaian:

1. Layanannya termasuk cukup cepat dari terima barang, menaksir, menyetujui, menyerahkan uang transaksi. Saya cek tiap konsumen untuk barang non emas rata-rata menghabiskan waktu 10-20 menit maksimum. Saya tidak bisa katakan maksimum 20 menit itu termasuk cepat, itu untuk saya termasuk udah agak lama nunggunya, jadi berasa ngantri di dalam bank bca saja 😦

2. Harga taksirannya untuk barang elektronik tidak dipatok bersih dari harga nilai jual 2nd di pasaran. Bisa dikatakan hanya maksimum 30 – 35% saja.

3. Harga taksiran untuk elektronik masih bisa dinegosiasikan. Saya rasa maksimum negosiasinya adalah 10-15% saja dari nilai awal taksiran dari petugasnya, itupun dengan catatan anda pun ramah kepada petugasnya dan memberikan alasan negosiasi yang masuk akal pula. Beruntunglah bila anda lebih paham barang yang anda ingin gadaikan dibandingkan si petugasnya πŸ˜€

4. Tiap pegadaian memiliki penilaian standarisasi barang secara mandiri, yang menjadi standarisasi hanyalah sistem cara kerjanya saja. Jadi harap maklum bila dari pusat ke cabang dari satu kota ke kota lainnya memang memberikan hasil yang berbeda terhadap keputusan penerimaan barang untuk ditaksir. Saran saya, pilihlah Pegadaian yang sekiranya memiliki petugas penaksir yang ‘berwawasan’ daripada sekedar karyawan yang ‘safe mode’ saja. Di kota-kota kecil, memang ‘wawasan’ petugas penaksir untuk barang elektronik lebih lemah, ini bisa dikarenakan dari individu petugasnya yang sangat jarang mengikuti perkembangan informasi terkini (semisal: branding, sales market, dsb dari sebuah produk elektronik). Sedangkan untuk penilaian taksiran emas, bisa dikatakan semua Pegadaian pasti memiliki sistem yang sama, dikarenakan harga emas terupdate setiap harinya dari pasar yang jelas karena emas merupakan salah satu instrumen investasi yang sudah memiliki pasar yang jelas dan menjadi bagian dari nilai ekonomi yang jelas pula.

4. Tidak setiap pegadaian menyediakan jasa keamanan satpam hingga cctv bagi siapapun yang ada di area pegadaian, sehingga rasa aman lebih bisa diterima di Pegadaian pusat saja, memang ini tidak dipukul rata untuk semua pegadaian cabang karena waktu di pegadaian cabang janti jogja menemani teman jaman kuliah memang ada keamanannya dan termasuk baik. Nalarnya kan gini, kalau satpam saja gak ada bagaimana anda yakin ini barang yang akan digadaikan pun aman di gedung pegadaian tersebut? Ya tho?

5. Tidak setiap pegadaian menyediakan nomor antrian konsumen dan ini bisa jadi membingungkan bila katakanlah sudah ada beberapa orang antri di dalam ruangan menunggu dipanggil anda pasti heran anda berada di urutan keberapa setelahnya?

6. Tidak setiap petugas loket standby di loketnya masing-masing, ini umumnya terjadi di pegadaian cabang yang memiliki tingkat kunjungan konsumen yang rendah.

7. Jika terjadi sistem offline, petugas loket akan menghentikan layanan mereka: menggadai dan menebus. Tapi ini juga conditional tergantung situasi tidak mutlak, untuk beberapa barang yang tidak terlalu rumit untuk diproses tebus, maka bisa ditebus hitung manual pake kalkulator mereka per lama hari gadainya.

Di bulan yang sama juga, saya menebus laptop itu di hari ke-23. Pada saat saya datang, beberapa konsumen berada di halaman sptnya sedang galau, saya tanpa ke satpam ada apa, satpam berkata pegadaian sedang offline dan berlaku di semua cabang jadi tidak bisa melanjutkan proses kerjanya. Wah wah…saya bingung, kalau gini konsumen dirugikan donk karena itu perhitungan bunga tetap berjalan seperti biasa, otomatis bunga di hari sistem offline juga ikut terhitung seperti biasa donk? Saya kasihan juga nih dng konsumen yang dihalaman ada yang berkata sudah telat untuk batas waktu gadainya mau bayar lunas malah offline, jadi besok malah kena hitungan biaya perpanjangan baru lagi. Saya memutuskan masuk ke dalam kantor pegadaian dan tanya ke petugas loket saya mo tebus laptop saya, untungnya itu para petugas masih ingat soal laptop saya itu dan saya pun diberikan layanan tebus hitung manual.

Untuk menebus barang anda di Pegadaian, anda cukup bawa kertas transaksi gadai yang berwarna ijo ijo itu ke petugas kasir, tunggulah sebentar untuk petugas menghitung lama gadai dan biayanya, barulah anda membayar. Saya dikenakan biaya bunga sebesar Rp.21.000 (klo gak salah ingat) saat saya menebus di hari ke-23 dari biaya bunga per 30 harinya sebesar Rp.23.000. Hmm…cuma beda 2 ribu doank tho? Gak signifikan banget ya bedanya πŸ˜€

Untuk gadai laptop selama 23 hari dengan nilai transaksi gadai sebesar Rp.1.100.000 (terima bersih 1.085.000) pada akhirnya saya mengeluarkan dana sebesar:

Nilai Total Gadai + Biaya Bunga Lama Hari Itu = Biaya Tebus

Rp.1.100.000 + Rp.21.000 = Rp.1.121.000,-

Jadi sebenarnya saya selama 23 hari mengeluarkan dana untuk menebus sebesar:

Biaya Tebus – Nilai Bersih Terima Gadai = Dana Tebus Bersih.

Rp.1.121.000 – Rp.1.085.000 = Rp.36.000.

Laptop pun dikeluarkan dan kembali kepada saya dengan aman selamat sentosa merdeka bahahaha πŸ˜€

Sekedar info tambahan, untuk perangkat elektronik yang memiliki baterai, anda diminta mencabut baterai dari kompartemen barangnya bila barang anda diterima petugas gadai untuk ditransaksikan. Laptop yang digadaikan tidak diwajibkan melengkapi dengan; tas laptop, buku manual, kartu garansi, cd driver dsb, hal itu hanyalah formalitas saja terutama tas laptop karena biasanya pegadaian tidak memiliki tempat perawatan khusus untuk penyimpanan barang elektronik jadi itu tas laptop hanya untuk memastikan laptop anda tersimpan rapat tidak kena debu dsb, karena sptnya gudang mereka pake sistem rak bertingkat gtu x ya?

Pegadaian termasuk usaha profitable yang menarik dan potensial, di luaran sana memang sudah muncul usaha sejenis oleh para startup dengan menggunakan sarana online (berbasis website), tapi kekurangannya adalah jasa yang ditawarkan masih terbatas area lokasi lokal saja tidak bersifat nasional merata seperti pegadaian, jenis barang yang digadaikan masih terbatas lebih sedikit daripada di Pegadaian, nilai transaksi gadai yang diijinkan pun masih dibatasi ada yang maksimal 3 juta ada yang maksimal 5 juta saja, batas waktu gadai lebih singkat (umumnya 30 hari saja dengan batas perpanjangan tambahan maksimum 15 hari saja) dan biaya bunga yang dibebankan termasuk lebih besar dibandingkan yang ditawarkan oleh Pegadaian.

Untuk saat ini saya rasa masih sulit untuk menaklukkan kemampuan Pegadaian dalam memberi layanan secara nasional. Diperlukan korporasi baru di bidang ini yang mampu memberikan layanan lebih baik dengan bunga yang lebih rendah dan cabang yang merata di seluruh Indonesia untuk benar-benar dapat bersaing dengan Pegadaian. Sebelum saat itu tiba, mau tidak mau, sepertinya konsumen masih akan menaruh hati untuk Pegadaian.

Iklan

2 thoughts on “Tidak Semua Pegadaian Sama

    1. 1. Posisi anda dkota wonosobo juga? Klo iya pegadaian pusat letaknya di jalan utama pasar induk wonosobo persis dsamping bank CIMB Niaga atau depan supermarket Mickey Mouse itu.

      2. Maksudnya struk asli? Kwitansi pembelian brg elektroniknya? Gak perlu mbak! Cukup bawa barang elektroniknya dan kardus brgnya buat tempat bungkus brg tsb dgudang biar bersih terjaga brg elektronik yg dgadaikan itu. Klo bisa ya sekalian manual book elektroniknya…ya usahakan lengkap tp gk perlu kwitansi pembelian brg elektroniknya buat syarat gadai krn dpegadaian harga nominal gadai dtentukan petugas taksir elektronik dpegadaian.

      Jelas ya?

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s