Jangan Sakit Parah di Pangandaran

Sebelum anda mulai menilai aneh-aneh terhadap judul artikel ini, saya minta anda untuk mencoba tenang dahulu dan open your mind. Saya tidak ada maksud buruk menulis artikel ini, diharapkan dengan menulis ini, pihak-pihak yang berkepentingan dapat melakukan tindakan nyata dan langkah cepat untuk memberi solusinya.

Mari kita mulai..

Sudah ke-sekian kalinya saya mengunjungi pangandaran. Pertama kali saya berkunjung adalah di tahun lalu 2014. Saya sempat berkeliling ke beberapa lokasi di pangandaran, melewati jalan raya hingga jalan tikus di sebuah desa.

Kebetulan saya ada seorang sahabat orang pangandaran yang bertempat tinggal di pangandaran. Bersama dia-lah saya diajak berkeliling pangandaran hingga sejauh motor jupi z1 saya menjelajah ke pantai batu hiu.

Kami pun mengobrol banyak hal, kebetulan sahabat saya ini cukup sering sakit antara pusing, masuk angin, demam hingga tipus. Dan dari obrolan soal sakitnya inilah saya mulai memperhatikan pangandaran lebih detail.

Teman saya yang sudah puluhan tahun menetap di pangandaran bercerita kini makin bangga pangandaran sudah terpisah dari kabupaten ciamis, dan akan berdiri sendiri menjadi kabupaten pangandaran. Katanya sih pangandaran selama waktu tsb menjadi salah satu daerah yang memberi pemasukan besar bagi ciamis tapi sayangnya pangandaran spt daerah yg dianak tirikan alias kurang dibangun dan dikembangkan, buktinya sudah bertahun-tahun memberi pemasukan, pangandaran masih gtu gtu aja.

Nah yang membuat saya terkejut adalah saat sahabat saya berkata di pangandaran tidak ada rumah sakit, adanya puskesmas. Saya tentu sulit mempercayainya sampai saya sendiri memang melihat benar adanya hanya ada satu puskesmas di pangandaran pusat (area bundaran yg ada pos polisi dekat pasar pangandaran itu-lah maksud saya) dari bundaran situ kami pakai motor belok ke kiri dan mengikuti petunjuk sahabat saya ini saya melihat sendiri puskesmas yang dimaksud.

Saya bertanya “Lalu klo orang pangandaran sakit parah gtu, trus gmn? di puskesmas aja? apa cukup perawatan puskesmas disini?”

Dan dia memberi jawaban “Klo sudah parah ya harus dibawa ke rumah sakit, tapi disini gk ada, paling gk ya dbawa pake mobil ke banjar tasik.”

Saya tanya lg “Dari sini ke banjar ato tasik gtu brp lama pake mobil?”

Dia menjawab “Ya paling gk sejam lah lebih dikit.”

Saya belum pernah ke banjar/tasik dari pangandaran, tapi satu hal yang pasti, jalan dari arah pangandaran saya akui jalanannya selain sempit, berliku dan jalanannya tidak rata karena lubang di sepanjang jalan begitu “mempesona”, dan lebih parahnya lagi tidak ada lampu penerangan jalan. Dan jalan inilah jalan utama untuk memasuki pangandaran dari area cilacap dan arah banjar, bis bis AKDP atau bis pariwisata ya lewat jalan ini saya sudah melihatnya langsung saat berkunjung ke pangandaran untungnya sampai di pangandaran siang hari saat pertama kali traveling ke sana, gak bisa saya bayangkan bila itu pertama kali traveling saya sampainya malam hari.pangandaran_tugu.jpg

Jadi maksud saya adalah:

1. Jalan raya utama masuk ke pangandaran dari pertigaan area cilacap dan arah banjar merupakan jalan utama yang dilalui berbagai macam jenis kendaraan dari roda dua hingga segede bus AKDP/Pariwisata. Dan jalan raya ini tidak rata banyak lubang yang sangat mengganggu perjalanan karena seringkali pengendara kendaraan bermotor harus perlahan dan melakukan pengereman yang cukup sering.

2. Tidak ada rumah sakit di pangandaran, adanya hanyalah sebuah puskesmas di pusat pangandaran area bundaran kota pangandaran belok ke kiri, ini pun jalanannya tidak begitu lebar dan dilalui kendaraan bermotor roda dua yang tidak sedikit alias ramai!

Beberapa bulan lalu, kakak ipar sahabat saya meninggal dunia, dan ini cukup mengejutkan saya karena terjadi beberapa hari setelah saya pulang dari rumah sahabat saya tsb, dan waktu saya disana pagi hari hujan saya melihat si kakak ipar dan sahabat sedang membeli sayuran dari pedagang sayur bermotor yang mampir ke rumah sahabat saya ini. Saya lihat sih si kakak ipar ini pada pagi hari itu sehat-sehat saja, tapi ya gimana lagi, namanya usia mana kita tau kan?pangandaran_h-1.jpg

Yang jadi pertanyaannya bukan soal kapan beliau meninggal, tapi soal bagaimana mendapatkan perawatan kesehatan yang memadai!

Saat si kakak ipar ini mulai sakit, awalnya dimasukkan ke puskesmas pangandaran, karena kondisinya makin parah, maka si kk ipar ini dibawa ke rs patroman banjar. Dan sampai rs di banjar ini, keluarlah diagnosa yang akurat yaitu si kk ipar menderita KANKER OTAK.

Dan tidak berapa lama dirawat, sang Maha Kuasa memanggilnya pulang kehadapanNYA.

Si kakak ipar, seorang wanita ini meninggalkan dua orang anak yang masih kecil salah satunya sudah remaja, dan seorang suami. Sekarang dua anaknya tinggal diurus dirumah sahabat saya krn ayahnya bekerja mjd satpam dan bekerja sesuai shift.

Menghening sejenak…

Kebetulan saya pernah bekerja di bidang kesehatan, saya bukan dokter, tapi saya memiliki aneka ragam pasien manusia dari kelas bawah hingga kelas menengah dari orang lokal indonesia sampai orang bule pun pernah saya bantu dirawat di beberapa rumah sakit selama saya bertugas di bali. Kebanyakan dari mereka adalah pasien tumor, tidak punya hidung, tidak punya telinga, bibir sumbing, dsb. Ada diantaranya yang dibawa ke australia untuk mendapatkan perawatan medis lebih intensif karena kondisi kesehatan yang ‘sulit’.

Saya memahami proses memberi perawatan orang sakit itu tidak mudah, tidak sepele dan tidak boleh disepelekan! Untuk orang dengan kondisi spt tumor dan kanker gtu, jelas ini tidak dapat ditangani di puskesmas – fakta! Klo sudah begini, harus mendapatkan perawatan intensif dan lebih tepat di rumah sakit! Diagnosa pun harus tepat dan puskesmas tidak memiliki peralatan medis untuk melakukan diagnosa penyakit berat spt itu!

Dipikirnya puskesmas ada alat ct-scan, mri, cek biopsi segala!?

Dari sini saya bertanya kepada sahabat saya ini “Klo orang pangandaran sakit berat dan gak bisa ckp drawat di puskesmas, trus gmn!?”

Jawabnya “Ya spt tadi, paling gak ya ke rs di banjar, itupun klo yang punya mobil yang enak dikit sih bisa langsung dbawa, klo gk punya mobil ya nyewa. Tapi ya jalan ke banjar dari sini kan gak rata, ya mo gmana lagi mungkin udah mati di jalan sblm sampe rmh sakit dbanjar.”

Menurut saya ini jawaban logis dan membumi, kita tidak bisa menyalahkan jawaban spt itu, karena faktanya memang benar adanya, mulai dari jalan raya berlubang yang sangat menghambat kelancaran berkendara, kurangnya penerangan jalan raya, tidak adanya fasilitas perawatan medis yang lebih memadai di pangandaran dan ujung-ujungnya nyawa warga pangandaran jadi taruhannya.

Klo sudah begini pun bisa jadi sehat itu mahal di pangandaran memang tepat. Saya tidak bisa membayangkan sebuah daerah terkenal, memberi banyak aset pemasukan daerah bertahun-tahun, tapi gk punya rumah sakit? Saat saya berkunjung ke majalaya jawa barat, yang hanya status kecamatan saja punya RSUD MAJALAYA!!! dan jujur saya lihat soal aset alam dan aset pemasukan utk kabupaten, wilayah pangandaran jauh lebih kaya daripada majalaya, tapi entah kenapa sejak dulu menjadi bagian dari ciamis, kenapa ya gk dibangun rumah sakit?

Selintar saya sempat membayangkan dahsyatnya tsunami pangandaran tempo dulu yang meluluh lantakkan area pangandaran (untungnya rumah sahabat saya jauh dari tkp, cuma ya ikut ngungsi ke atas bukit dpn rumahnya) dan pada saat itu pun tidak ada RUMAH SAKIT disana, adanya ya puskesmas pangandaran itu, jadi bisa dibayangkan kan kalau bencana besar terjadi dan terjadi faktor butuh perawatan medis masal secara mendadak?

Disini saya tidak bermaksud mengucilkan fungsi puskesmas, karena buat saya sekecil apapun ada layanan medis itu sudah baik daripada tidak ada sama sekali. Yang jadi pertanyaan saya itu bukanlah soal puskesmasnya, tapi MENGAPA TIDAK ADA DAN SAMPAI KAPAN ADA RUMAH SAKIT DI PANGANDARAN???

Kita tentu tau ya menteri kelautan adalah orang pangandaran, Ibu Susi, kebetulan saat saya berkeliling bersama sahabat saya, kami melihat ada beberapa alat berat dan manusia yang sedang meratakan pasir di pantai menjadi sebuah landasan cukup panjang, dan kata orang sih itu buat pendaratan pesawat (ringan), tapi disini saya tidak mengatakan itu jalur pendaratan pesawat milik siapa loh ya 🙂

Saya sih berharap Ibu Susi bisa nyentil pemerintah pusat agar pangandaran segera ada birokrasi resminya sendiri (karena sudah pisah dari ciamis) dan segera membuat rumah sakit. Kan tidak lucu di pangandaran tidak sedikit tempat menginap, banyak turisnya bahkan membludak ketika musim liburan, aset pemasukan besar, tapi tidak ada rumah sakit???

Helooo, dipikirnya puskesmas saja cukup pa!?

Mau sampe kapan orang meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat bilamana puskesmas sudah angkat tangan memberi perawatan?pasar_pananjung_pangandaran.jpg

Jumlah apotik yang saya temukan di pangandaran di samping pasar pananjung pangandaran ada sekitar 2 apotik (saya lihatnya malam hari), saya pun pernah mampir bersama sahabat saya untuk membelikan dia obat. Sebuah puskesmas dikelilingi dengan apotik yang tidak hanya satu, tapi tidak ada rumah sakit!?

Lalu bila pemerintah sudah berkoar-koar segala sakit ditanggung dengan kartu ajaib bernama kartu BPJS, apakah masyarakat pangandaran harus tetep mentok di puskesmas saja bila tidak sanggup ke rumah sakit terdekat? Apa pemerintah yakin 1 jam perjalanan ke rumah sakit terdekat berjalan dng lancar tanpa hambatan? Apa pemerintah yakin warga pangandaran yang sakit dan bisa dibawa ke rumah sakit terdekat sampai rumah sakit selalu dalam kondisi masih bernyawa!?

Ya saya agak sedikit emosi disini, karena saya sudah merasakan mati-matian memberi bantuan pendampingan dan perawatan pasien saya di bali, dari kaum miskin yang tinggal di pelosok pulau lombok hingga bule rusia sudah mengerti perjuangan saya demi mereka.

Jadi bila ada orang sakit, di pangandaran, dan harus terus dibawa ke rumah sakit terdekat minimal di banjar, 1 jam perjalanan, dan ini masih berlangsung hingga di tahun ini bahkan di tahun depan tidak ada rumah sakit juga, maka respond saya adalah: ANJING BENER PEMERINTAH KITA INI!!

Yang terhormat menteri kesehatan dan presiden republik indonesia, saya minta sekali-kali anda cobalah menjadi warga biasa yang sakit parah di pangandaran, semoga anda mengerti maksud saya.

Iklan